Showing posts with label Ekonomi. Show all posts
Showing posts with label Ekonomi. Show all posts

Saturday, 17 December 2011

Junjung Tinggi Makna Profesionalisme

Junjung Tinggi Makna Profesionalisme*

Profesionalisme itu adalah suatu sikap yang harus dipunyai oleh semua individu yang menjalankan kodratnya sebagai manusia yang hidup didunia untuk mencapai kehidupan akherat. Sikap ini harus di tumbuh kembangkan pada saat itu menginjak dunia sekolah. Banyak orang selalu melakukan tumbang tindih dalam melakukan pekerjaannya.

Profesionalisme itu adalah melakukan pekerjaan yang sudah ditetapkan dan bertanggung jawab. Ungkapan "The right man in the right pleace" adalah benar adanya. Profesionalisme sama halnya dengan accountanbility, kedua hal ini memiliki makna yang sama, y
aitu sama- sama melakukan pekerjaan dengan baik dan dapat dipertanggung jawabkan. Pekerjaan yang dilakukan harus sesuai dengan keahlian dan kemampuan yang dimilikinya disertai dengan tanggung jawab yang harus diselesaikan atau dalam kata lain, melakukan job desknya dengan penuh tanggung jawab. Western people sangat menjunjung tinggi arti dari sebuah profesionalisme, semua pekerjaan mereka nilai dari keprofesiannya.

Seorang dokter, pengacara, personal trainer, pilot, teacher, dan lain sebagainya, mereka dihargai sesuai dengan profesinya. Western people selalu menghargai arti penting profesionalisme. Mereka selalu di bayar mahal dengan keahlian yang dimilikinya. Menjunjung profesionalisme adalah suatu komitmen untuk hidup sukses dan makmur di masa depan, suatu keberhasilan hanya dapat di raih dengan menjunjung tinggi nilai sebuah profesionalisme. Let's put professionalism in front guard for the best one..


*Postingan di blog lama.

Best Regards

Slamet Wiharto

Thursday, 18 August 2011

Sumber Daya Manusia Dalam Industri Fitness

Hari Minggu kemarin tanggal 14 Agustus 2011, saya menghadiri Bandung Fitness Conference, baru kali pertama ini saya datang menghadirinya, ternyata sebelumnya sudah pernah diadakan dan juga bertempat di Bandung di Hotel Aston Cihampelas Bandung.

Saya sangat terkesan dengan acara ini, dan di gagas langsung oleh Icon binaraga dan fitness Indonesia yaitu Ade Rai. Tokoh kita yang satu itu, tidak henti- hentinya mensosialisasikan pentingnya kesehatan dan olahraga fitness, terutama binaraga.

Pada hari itu juga Ade Rai meluncurkan dua bukunya yang berjudul 101 Bakar Lemak, yaitu tentang tips dan trik dalam membakar lemak dan satu lagi adalah buku 101 Binaraga Natural yaitu buku yang berisikan tentang tips dan trik menjadi Binaraga Natural.

Sangat membanggakan memang tokoh kita itu, di Indonesia sangat jarang sekali orang yang mau mensosialisasikan pentingnya kesehatan bagi kehidupan kita dan bagaimana menjadi binaraga yang sehat dan natural. Apalagi ditengah derasnya industri fitness yang semakin maju dan berkembang, yang seolah- olah sulit dibendung, dengan beraneka ragam varian, dari mulai jenis dan ragam fitness center, alat- alat fitness, pola latian yang kian beragam, jenis supplement, hingga pemakaian obat- obatan terlarang untuk mendongkrak peforma olahraga fitness itu sendiri.

Dengan begitu derasnya arus globalisasi pada industri ini, maka sumber daya manusia juga harus segera disediakan, sekarang banyak sekali sertifikasi- sertifikasi dan pelatihan yang dilakukan oleh badan sertifikasi yang ada di luar negeri khususnya Amerika, dan bagaimana halnya di Indonesia?

Itu merupakan pertanyaan yang sulit di jawab, dan bagaimanakah peran pemerintah dalam melihat kian majunya industri fitness di tanah air? pertanyaan tersebut sudah terjawab dalam tugas akhir penelitian (tesis) saya (berjudul "Bisnis dan Manajemen Fitness Center Dalam Perspektif Islam".) Alhamdulillah, sekarang ini, sudah ada metode pelatihan dan sertifikasi di negeri kita ini, dan lagi- lagi yang menjadi penggagas dan pionirnya adalah Ade Rai. Ade Rai mendirikan Rai Institute guna menyiapkan SDM yang siap pakai dalam industri Fitness.

Banyak sekali kesalah pahaman yang terjadi di masyarakat kita yang menyangkut olahraga dan industri ini, yang seharusnya dapat diluruskan oleh pelaku- pelaku industri itu sendiri, bisa kita lihat pada frontline industri ini yaitu para instruktur dan personal trainer, mereka di tuntut agar dapat memberikan informasi yang sebenar- benarnya mengenai olahraga fitness dan pentingnya menjaga kesehatan dan kebugaran, kepada para kliennya yaitu para member- member di pusat kebugaran, sehingga kesalah pahaman dan mitos- mitos yang selama ini berkembang dapat di reduce dan dihilangkan karena hal itu dapat menyesatkan bagi pelaku fitness yaitu para member fitness center.

Best regards,

Slamet wiharto

Wednesday, 1 September 2010

Jagalah Sumber Budaya & Alam Indonesia


Indonesia adalah negara yang kaya akan sumber alam dan budayanya. Indonesia juga merupakan salah satu negara yang memiliki populasi manusia terbesar. Negara Indonesia adalah negara yang besar dan unik, begitu pula dengan berbagai fenomena yang dialami oleh bangsa ini, karena terlalu kayanya dengan budaya yang beragam, sampai ada dari beberapa negara lain yang ingin mengambil budaya kita. Kalau sumber daya alam yang ada dan berlimpah ini, sudah jelas dan barang tentu, ada yang mengambil dengan cara sembunyi- sembunyi dan terang- terangan, namun kita tidak menyadarinya, atau bahkan menyadarinya tetapi diam saja.. apakah kita juga merupakan bangsa yang sabar..?

Kita akan mudah terpancing emosi bila budaya kita diambil oleh negara lain. Tetapi mengapa tidak dengan sumber daya alam yang ada yang sudah di angkut kenegara lain, mengapa kita tidak cendrung naik pitam..? ada apakah dibalik semua ini..? apakah memang sumber daya manusia kita tidak mengerti dan tidak tahu, apa yang akan di perbuat dengan berlimpahnya kekayaan alam yang ada dibumi nusantara ini..? Masih banyak sekali pertanyaan- pertanyaan yang akan timbul, apabila kita sejenak memikirkannya. "Let's back on track..." Jangan hanya termenung untuk memikirkannya, tetapi cari solusi yang tepat dan terbaik untuk bangsa ini.

Best Regards

Slamet Wiharto

Tuesday, 20 July 2010

Pembangunan Daerah


Oleh : Slamet Wiharto

Wacana pembangunan daerah sudah lama didengungkan saat adanya undang- undang otonomi daerah. Dengan adanya undang- undang ini maka tanpa disadari para gubernur dan bupati menjadi raja kecil ataupun presiden di daerahnya sendiri, karena hal inilah maka perebutan kursi untuk menduduki jabatan gubernur atau bupati menjadi sangat didambakan semua insan politik di tanah air, mereka berbondong- bondong balik kekampung dan daerahnya masing- masing untuk mencari simpati atau tebar pesona kepada masyarakat sekitar asal mereka.

Daerah kelahiran mereka yang dulu telah lama ditinggalkan, sekarang menunggu dan menanti untuk dimajukan oleh putra daerah masing- masing, baik dalam segi ekonomi, pendidikan, budaya, dan agama. Banyaknya potensi lahan di daerah yang belum digarap, menjadi salah satu factor untuk memajukan daerah itu sendiri. Semangat otonomi daerah memang harus dimiliki oleh setiap putra daerah, karena merupakan kebanggaan tersendiri. Yang tak dapat dilupakan, seperti pepatah mengatakan “gajah mati meninggalkan gading, harimau mati, meninggalkan belang, dan manusia mati meninggalkan kebaikan dan amal perbuatan”. Pepatah inilah yang harus selalu diingat selama mengisi kehidupan di dunia dan sebagai bekal di akherat, dalam agama manapun juga diajarkan.

Tuesday, 14 July 2009

Fenomena Sukuk


Slamet Wiharto

Belum lama ini dalam masa kampanye pemilu presiden 8 Juli 2009, sering sekali kita mendengar banyak sekali orang- orang yang memperbincangakan, berdiskusi tentang sukuk. Wacana sukuk mulai banyak diangkat kepermukaan, dengan seiring berkembangnya perbankan dan lembaga keuangan syariah di bumi Indonesia. Padahal wacana sukuk ini di eropa dan timur tengah sudah tidak asing lagi, sudah lama ada, tetapi kita aja orang Indonesia yang agak sedikit norak dan kurang memahami apa arti sebenarnya dari sukuk itu sendiri.

Banyak sekali isu- isu politik yang mengetengahkan sukuk sebagai topic hangatnya. Sampai- sampai ada beberapa politikus yang ikut ngomong tetapi salah kaprah mengartikan arti sukuk itu sendiri, sehingga jadi menambah keruwetan dan rasa penasaran dikalangan masyarakat tentang apa sih sukuk itu sebenarnya..?

Pada Hari Senin tanggal 6 Juli 2009, berlokasi di Kampus International Trisakti Mega Kuningan, Kantor Taman E.33, The Islamic Banking and Finance Institute mengadakan one day intensive course sukuk a to z. Training satu hari ini mendatangkan langsung expert course training yaitu Mr. Rafe Haneef, beliau adalah managing director dari Fajr Capital a new Islamic investment company based in London, Dubai dan Kuala Lumpur.

Mr. Rafe Haneef memberikan pelatihan satu hari dengan begitu padatnya materi pelatihan, dari mulai pengenalan sukuk mengenai konsep dan definisinya, global sukuk market, sukuk dn securitization, struktur dari macam- macam tipe sukuk, sukuk al- ijarah, equity- based sukuk yaitu mudharabah dan sukuk musyarakah, managing the risks in mudharabah dan sukuk musyarakah.

Seharusnya para politikus mengikuti training satu hari, karena sangat jarang sekali ada one day intensive course seperti ini. The Islamic Banking and Finance Institute dan Islamic Economics and Finance Universitas Trisakti sebagi yang terdepan dalam pengembangan dan kemajuan ekonomi syariah di Indonesia, mampu menangkap peluang dan menyajikan training sukuk untuk dapat memberi wawasan dan pemahaman mengenai sukuk yang sekarang memang sedang hangat dibicarakan.

Semoga IEF dan IBFI Universitas Trisakti terus dapat menyajikan berbagai macam training- training, workshop, seminar, kuliah umum dan menghadirkan para trainer- trainer dan tenaga pengajar yang ahli dan professional di bidangnya. IEF dan IBFI Universitas Trisakti leading on syariah, amin.

Tuesday, 26 May 2009

Sifat dan Ciri Produk Operasional Perbankan Syariah

Slamet Wiharto

Perbankan syariah memiliki keunikan tersendiri dibandingkan dengan perbankan konvensional baik dari segi fungsi, produk maupun dari segi operasionalnya. Perbankan syariah dapat menjalankan fungsi-fungsi yang tidak mungkin dapat dilakukan oleh bank konvensional.
Fungsi-fungsi tersebut adalah :

Berfungsi sebagai fund manager seperti dalam akad mudharabah muqayyadah.
Berfungsi sebagai pool of funds.
Berfungsi sebagai baitul maal, karena bank dapat mengumpulkan dan menyalurkan zakat, infaq dan shadaqah.

Disamping keunikan pada fungsinya bank syariah memiliki keragaman produk yang sangat banyak. Produk-produk ini memiliki kekhasan dan ciri-cirinya yang berbeda. Produk-produk tersebut dikembangkan dari akad-akad fiqh yang ada dalam Islam. Setiap produk yang dikembangkan tersebut tidak dapat disamaratakan, masing-masing memiliki tata cara dan persyaratan yang berbeda. Perbedaan-perbedaan ini tentunya memiliki status dan konsekuensi hukum yang berbeda pula. Contohnya produk yang berbasis jual beli sama sekali berbeda dengan yang berbasis bagi hasil.

Ada beberapa dasar yang melandasi sebuah transaksi dalam menjalankan system perbankan syariah:
Transaksi dijalankan pada sesuatu yang dapat memberikan manfaat (mashlahat) dan menghindari kezhaliman.
Transaksi harus transparan dan tidak boleh mengandung keraguan yang menyebabkan terjadinya kerugian atau penipuan (gharar).

Transaksi harus bebas dari unsur maysir (gambling).
Jika mengharapkan keuntungan, maka harus bersedia menanggung kerugian.
Uang sebagai alat pertukaran nilai, manfaat dari uang hanya timbul sebagai akibat pemakaian maal dan amal yang dibeli dengan uang tersebut.

Dengan keunikan fungsi dan mekanismenya, bank syariah memerlukan SDM Islami yang bukan hanya memiliki ketajaman bisnis tetapi juga memahami filosofi dari akad-akad fiqih. Produk-produk bank syariah yang sudah beragam itu terus dapat dikembangkan, sehingga seluruh keperluan masyarakat dalam muamalah maaliyah (kebutuhan finansial) dapat dipenuhi, sambil terus mempertahankan prinsip-prinsip keislamannya. Dengan demikian bank syariah bukan hanya memberikan kemudahan finansial, tetapi juga memberikan kesempatan kepada segenap lapisan masyarakat untuk beribadah melalui bisnis dan usaha yang dijalankannya.
Referensi : ( Zainul 2006 ) Dasar-dasar Manajemen Bank Syariah, Pustaka Alfabet, Jakarta

Monday, 27 April 2009

Sumber Daya Insani

Sumber Daya Manusia Islami

Oleh : Slamet Wiharto

Tujuan pengembangan perbankan syariah diarahkan untuk mewujudkan sistem dan tatanan perbankan syariah yang sehat dan istiqomah dalam penerapan prinsip syariah.Untuk mencapai tujuan pengembangan perbankan syariah tersebut, maka kebijakan pengembangan perbankan syariah, salah satunya adalah pengembangan sumber daya manusia Islami. Berkaitan dengan SDM Islami ini maka dirasakan masih langkanya SDM Islami yang mampu dan siap untuk memenuhi kebutuhan operasional bank syariah. Kendala di bidang SDM Islami dalam pengembangan perbankan syariah ini terjadi disamping sistem perbankan syariah di Indonesia relatif masih baru dikembangkan, juga masih terbatasnya lembaga akademik dan pelatihan di bidang perbankan syariah.

Selanjutnya penting untuk dikemukakan bahwa keberhasilangan pengembangan perbankan syariah bukan hanya ditentukan oleh keberhasilan upaya penyebarluasan informasi, penyusunan atau penyempurnaan perangkat ketentuan hukum, atau banyaknya pembukaan jaringan kantor, tetapi juga sangat ditentukan oleh kualitas sumber daya insani para pelaku perbankan syariah, yaitu para bankir, nasabah dan investor (masyarakat pengguna jasa) dalam memanfaatkan bank syariah sebagai bagian dari sistem keuangan yang rahmatan lil alamin.

Para bankir, nasabah, maupun investor pengguna jasa hendaknya menggunakan sistem perbankan syariah dengan berlandaskan kepada kompetensi usaha dan perilaku yang penuh integritas. Kompetensi usaha dan perubahan perilaku dapat terjadi apabila terdapat kesediaan dari masyarakat untuk mau mempelajari kegiatan perbankan syariah sebagai sebuah sistem disamping sebagai ajaran muamalah.

Integritas akan tetap terpelihara apabila para pelaku perbankan syariah menyadari bahwa transaksi yang dilakukan adalah hubungan muamalah sehingga memiliki tanggung jawab dunia dan akhirat. Adanya pembangunan SDM Islami syariah yang memiliki dimensi dunia dan akhirat sesuai dengan hadist Rasulullah SAW : “Bukanlah sebaik-baiknya kamu orang yang bekerja untuk dunianya saja tanpa akhiratnya, dan tidak pula orang-orang yang bekerja untuk akhiratnya saja dan meninggalkan dunianya. Dan sesungguhnya, sebaik-baiknya kamu adalah orang yang bekerja untuk akhirat dan untuk dunia.”

Pernyataan hadist Rasulullah dimaksud jelas menunjukkan adanya keseimbangan antara hubungan manusia dengan manusia serta hubungan antara manusia dan Allah SWT. Hadist tersebut juga secara implisit mengharuskan adanya keseimbangan yang harmonis antara faktor intelektual, emosional dan pendalaman spiritual tauhid sumber daya insani perbankan syariah (lebih dikenal dengan Inteligent Quotient, Emotional Quotient dan Spiritual Quotient).

Secara aplikasi pengembangan sumber daya insani perbankan syariah diharapkan memiliki akhlak dan kompetensi yang dilandasi oleh sifat yang dapat dipercaya atau amanah, memiliki integritas yang tinggi atau shiddiq, dan senantiasa membawa dan menyebarkan kebaikan atau tabligh, serta memiliki keahlian dan pengetahuan yang handal atau fathonah.

Ketersediaan SDM Islami dan kemampuannya mengkomunikasikan tentang keunikan dan karakteristik dari produk-produk perbankan syariah menjadi faktor penting untuk menarik nasabah potensial. Kegagalan menjalankan prinsip-prinsip syariah dalam operasional dan gagal dalam mengkomunikasikannya akan menjadi back fire bagi perkembangan perbankan syariah itu sendiri. Bahkan dapat mengundang kecurigaan masyarakat. Bank syariah hanya mengganti nama dan beberapa istilah ke dalam bahasa Arab tanpa merubah esensi, itulah keluhan yang sering terdengar di masyarakat.

Kecurigaan dan ketidakpuasan masyarakat tentunya didasarkan pada pengalaman interaksi khususnya dengan sejumlah bank perkreditan rakyat syariah yang belum melaksanakan prinsip-prinsip syariah secara konsisten. Selain itu juga sudah terjadi prasangka dan salah persepsi dari masyarakat pengguna jasa bank syariah. Bisa jadi masyarakat tidak mendapatkan informasi yang semestinya dari orang yang kurang memahami aspek operasional bank syariah, kondisi ini akan lebih merugikan bank syariah bila yang menjadi nara sumber adalah tokoh masyarakat yang menjadi panutan.

Mempersiapkan SDM Islami yang handal bukan hanya menjadi tugas bank syariah saja, tetapi juga menjadi tugas pihak-pihak lain seperti lembaga pendidikan dan pemerintah. Sejauh ini di Indonesia belum ada satu lembaga pendidikan pun yang mengeluarkan tenaga yang memenuhi requirement yang dibutuhkan oleh lembaga keuangan syariah, khususnya bagi keperluan jangka panjang. Oleh karena itu keberadaan lembaga pendidikan yang akan menyediakan SDM Islami kepada lembaga keuangan syariah merupakan hal yang dinanti-nantikan, baik oleh lembaga keuangan syariah maupun oleh masyarakat. Hal ini akan jauh menjadi lebih baik apabila pengajaran mata kuliah ekonomi dan perbankan syariah dijadikan kebijakan pendidikan nasional Indonesia.

Referensi : ( Zainul 2006 ) Dasar-dasar Manajemen Bank Syariah, Pustaka Alfabet, Jakarta

Saturday, 28 February 2009

Pengertian, Karakteristik dan Ruang Lingkup Syariah


Oleh : Slamet Wiharto
Pengertian Syariah bila dilihat dari :
· Segi etimologinya adalah ”Jalan ke tempat pengairan jalan yang harus diikuti, atau tempat lalu air sungai”.
· Menurut makna Quraninya adalah ”Jalan yang jelas yang membawa kepada kemenangan (QS. Al-Maidah ayat 48, QS. Asy-Syuura ayat 13, QS. Al-Jaatsiyah ayat 18.)
· Segi terminologinya adalah ”Segala titah Allah yang berhubungan dengan tingkah laku manusia di luar yang mengenai akhlaq.
Pengertian Fiqh bila dilihat dari :
· Segi etimologinya adalah ”Faham yang mendalam”.
· Segi terminologinya adalah ”Ilmu tentang hukum-hukum syariah yang bersifat amaliayah yang digali dan ditemukan dari dalil-dalil yang terperinci (tafshili).
Materi Fiqh :
· Ilmu tentang hukum-hukum Allah.
· Pembahasannya pada hal-hal yang bersifat amaliyah furuiyyah.
· Sumber referensinya berasal dari dalil-dalil yang terperinci.
· Digali melalui penalaran istidlal mujtahid atau faqih.
Pengertian Hukum adalah ”Seperangkat peraturan tentang tingkah laku manusia yang ditetapkan dan diakui oleh satu negara atau kelompok masyarakat, berlaku dan mengikat untuk seluruh anggotanya.
Kharakteristik Syariah yaitu :
Tauhidiyyah.
Rabbaniyyah.
Istiqomah.
Syumuliyyah.
Tawazuniyyah.
Ta’amuliyyah.
Waqi’iyyah.
1. Tauhidiyyah adalah konsep yang menjelaskan tentang adanya sesuatu penguasa alam raya yang tunggal dan mengatur sesuatu yang berada diluar dan didalamnya. Allah lah yang menciptakan segala yang ada di jagat ini, baik yang tersembunyi maupun yang tampak. Melalui kekuasaanNya, semua mahluk harus tunduk dan beribadah kepadaNya. Seperti dalam Surah Ali-’Imran ayat 26.
2. Rabbaniyyah adalah konsep yang berasal dari wahyu Allah, tanpa mengambil sumber lain. Wahyu-wahyu yang diberikan kepada rasul-rasulNya tetap terjaga dari kesucian. Seperti dalam Surah ayat 9.
3. Istiqomah adalah dimana konsep yang karena Islam bukan produk pemikiran manusia, bukan produk lingkungan atau masa tertentu, juga bukan produk faktor-faktor dunia, maka karakteristik Islam yang datang dari Allah adalah ”Gerak di dalam kerangka yang tetap dan seputar poros yang tetap pula”. Seperti dalam Surah Ar-Ruum ayat 30.
4. Syumuliyyah adalah konsep yang membicarakan tentang seluruh yang ada di dunia dan di luar dunia ini secara rinci. Tentang hakekat alam, hakekat kehidupan, hakekat manusia (tabiat, kejadian, sifat, dan ikhwal) serta hubungan dengan hakekat ilahi yang akbar. Seperti dalam Surah Ali-’Imran ayat 4-5, dan ayat 27. Penerapan ataupun implikasi dari syumuliyyah ini bisa dilihat dalam Islam sebagai jalan hidup/ tatanan hidup yang lengkap.

5. Tawazuniyyah adalah konsep keseimbangan dalam segala sendi dan dalam pengungkapan-pengungkapannya. Keseimbangan konsep Islam juga tidak terombang-ambing kesana-sini, dari berlebihan disana-sini, dan dari berbagai benturan. Konsep Islam juga selamat dari kerusakan-kerusakan dan kekurangan. Seperti dalam Surah Al-Mulk ayat 3.
6. Ta’amuliyyah yaitu keaktivan dalam hubungan Allah SWT dengan alam dan manusia serta keaktivan manusia itu sendiri dalam berbagai bidang kegiatannya. Sifat-sifat Allah dalam konsep Islam bukanlah sifat-sifat yang pasif. Konsep manusia tentang Tuhannya dan keterkaitan sifat-sifatNya dengan kehidupan manusia itulah yang menentukan nilai Tuhan di dalam dirinya, disamping menentukan juga sikap kepadaNya.
7. Waqi’iyyah adalah konsep Islam yang berhubungan dengan realitas objektif yang memiliki wujud nyata dan meyakinkan serta jejak bekas yang realitas pula. Ia tidak berupa konsep rasional ataupun idealisme tanpa wujud nyata dalam realita. Seperti dalam Surah Al-An’aam ayat 95-103.

Thursday, 29 January 2009

Perlunya Pengawasan Produk Bank Syariah

Oleh : Slamet Wiharto

Perkembangan perbankan dan keuangan syariah saat ini sangat melaju pesat, ditandai dengan banyak berdirinya bank- bank dan lembaga keuangan syariah yang dibarengi dengan berbagai event- event syariah, seperti : Festival ekonomi syariah, pameran, workshop dan seminar- seminar yang banyak di adakan oleh instansi pemerintah, lembaga kampus seperti IEF- Universitas Trisakti, lembaga bank dan keuangan syariah lainnya.

Pada tahun 2008 yang lalu UU Perbankan syariah sudah disahkan dan rencananya tahun ini akan menyusul UU SBSN (Surat Berharga Syariah Negara) atau yang biasa dikenal dengan "Sukuk". Saya memperkirakan tahun ini 2009 adalah tahun boomingnya syariah. Begitu cepat pertumbuhan dan perkembangnya maka Bank Indonesia sebagai regulator dan pengawas perbankan, harus dapat mengimbangi percepatan tersebut dengan mebekali para SDMnya dengan mengikuti training- training, workshop dan seminar- seminar yang diadakan oleh lembaga kampus yang kredibelitasnya sudah tidak diragukan lagi, seperti IEF-Universitas Trisakti, PSTTI Universitas Indonesia dan berbagai lembaga kampus lainnya.

Perkembangan, pertumbukan perbankan dan keuangan syariah Nasional, hendaknya berprinsip pada "slowly but sure" atau bahasa populernya"alon- alon asal kelakon", berlahan tapi pasti. Ingin cepat tumbuh dan berkembang, tetapi malah melupakan prinsip dasar dari syariah itu sendiri. Produk- produk perbankan syariah seharusnya benar- benar berprinsip syariah, tidak asal jadi produk saja, maka dari itu Bank Indonesia perlu ikut mengawasi inovasi- inovasi produk yang dibuat oleh bank syariah agar tidak keluar jalur dari prinsip syariah, dalam hal ini perlu adanya kerjasama Bank Indonesia dan Dewan Syariah Nasional.

Menurut Mulya E Siregar dari Bank Indonesia mengatakan pada kuliah umum yang diadakan oleh IEF Universitas Trisakti, pada tanggal 28 Januari 2009 bahwa diperlukan adanya izin dari BI untuk meloloskan sebuah produk perbankan syariah. Saya sangat sependapat dengan beliau tetapi hendaknya BI bekerjasama dengan pihak DSN, dalam hal membuat perizinan untuk produk perbankan syariah yang akan dipasarkan kepada masyarakat.

Tuesday, 16 December 2008

Perlunya Perubahan Perekrutan Tenaga Kerja

Oleh : Slamet Wiharto

Selama ini kita tahu dalam perekrutan tenaga kerja di dalam negeri masih menggunakan tes psikotes, padahal di luar negeri model perekrutan tenaga kerja yang menggunakan metode psikotes sudah ditinggalkan dan sudah tidak relevan lagi. Banyak contoh dan kasus yang terjadi dan dialami oleh para pencari kerja. Banyak sekali para lulusan dari perguruan tinggi ternama, yang tidak bisa tembus dan lulus dalam tes psikotes yang diadakan oleh para perusahaan yang membutuhkan karyawan, pada umumnya adalah BUMN dan pegawai negeri. Para pencari kerja tersebut memiliki indeks prestasi yang baik, dan ada juga yang lulus kuliah dengan predikat cum laude, tetapi yang jadi masalah adalah banyak juga dari mereka yang tidak lulus dalam tes psikotes yang diadakan untuk penyeleksian tenaga kerja.

Kasus seperti ini seharusnya bisa menjadi bahan penelitian dan menjadi fenomena tersendiri dalam model perekrutan tenaga kerja. Contoh kasus ada, seorang mahasiswa yang telah lulus kuliah sarjana dari perguruan tinggi negeri dengan predikat cum laude dan selalu gagal bila mengikuti seleksi tes pegawai negeri dan BUMN, gagalnya dalam tes psikotes. Ternyata hal ini banyak dialami oleh para pekerja lainnya. Tetapi ada juga yang indeks prestasinya standar yaitu 2.75 dan dari perguruan tinggi swasta dan tidak ternama bisa lulus dalam semua tes yang diikuti termasuk tes psikotes.

Dengan banyak kasus di atas maka dapat disimpulkan bahwa, kepintaran seseorang sebenarnya bukan dinilai dari tes psikotes tersebut, melainkan berdasarkan banyak faktor. Ada orang yang pintar dalam satu hal dan tidak dalam hal lain, misalnya ada orang yang pandai dalam berhitung atau matematika, dan tidak pandai dalam menghafal, begitu pula sebaliknya. Itulah sebabnya ada ungkapan "No Bodies Perfect" jadi tidak ada orang yang sempurna. Mungkin saja ada orang yang memiliki indeks prestasi standar tapi pintar dalam menjawab soal- soal psikotes dan begitu pula sebaliknya.

Manusia yang hidup di alam ini adalah saling melengkapi dan semua saling membutuhkan, mencari pasang hidup juga mencari pasangan yang bisa saling melengkapi satu sama lain. Makanya di Barat dalam perekrutan tenaga kerja sudah tidak menggunakan model tes psikotes lagi, mereka memakai tes kemampuan dari bakat seseorang. Banyak orang yang memiliki indeks prestasi yang bagus yaitu diatas 3.00 dan cum laude memilih mengikuti seleksi calon pegawai perusahaan asing di luar negeri, karena mereka lebih menghargai indeks prestasi yang dirintis sejak masa kuliah, daripada hasil tes psikotes yang dilakukan hanya sekali, sama halnya dengan pepatah yang mengatakan "Rusak Susu Sebelangga". Contohnya bila ada perusahaan marketing yang ingin mencari karyawan maka yang dicari adalah orang- orang yang memiliki jiwa dan bakat marketing, namun dalam hasil seleksi dan tes bakatnya ditemukan orang- orang yang memiliki bakat menganalisa dan tidak ada bakat dalam bidang marketing, maka otomatis tidak bisa menjadi karyawan perusahaan tersebut, penilaian tersebut fair.

Perekrutan karyawan pegawai negeri atau BUMN yang menggunaka metode tes psikotes sangat banyak menimbulkan fraud atau kecurangan, banyak sekali calon pegawai negeri atau BUMN adalah orang- orang titipan (kenalan orang dalam) atau KKN, yang sebenarnya tidak memilki kemampuan dalam pekerjaan yang dicari tersebut dengan kata lain "No Right Man In The Right Place." Hal ini dapat dibuktikan dengan banyaknya perusahaan BUMN dan pegawai negeri yang tidak produktif, karena hanya diisi dan di duduki oleh orang- orang yang tidak memiliki kemampuan dalam pekerjaannya. Praktek seperti ini masih banyak dilakukan oleh para oknum pegawai negeri dan BUMN dengan menawarkan pekerjaan namun harus membayar sejumlah uang sebagai gantinya.

Wednesday, 10 September 2008

Mekanisme Pasar Menurut Ekonomi Islam

Oleh : Slamet Wiharto

I. Pendahuluan.

Peranan ekonomi Islam dalam mengatur mekanisme kegiatan pasar pada saat dewasa ini merupakan faktor yang sangat penting, bagi majunya dan berkembangnya perekonomian dunia pada umumnya dan khususnya bagi bangsa Indonesia, yang sekarang ini laju perekonomiannya masih cukup lambat, setelah krisis moneter singgah dinegara yang kita cintai ini.
Dua paham ekonomi yang selama ini menjadi acuan dan barometer dunia, yaitu ekonomi kapitalis dan ekonomi sosialis ternyata tidak dapat mengatur mekanisme kegiatan pasar saat ini yang serba tidak menentu dan tidak jelas, malah semakin memperparah keadaan. Ekonomi Islam yang lebih dahulu lahir, sekitar abad ke VI, eksistensinya cenderung diabaikan dan dilupakan. Ekonomi Islam lahir semenjak diturunkannya wahyu Allah (ayat-ayat suci Al-Quran) melalui Rasullnya yaitu Nabi Muhammad SAW. Al-Quran sebagai pedoman hidup atau The Way of Live yang komprehensif, yang termasuk mengatur di dalamnya kehidupan bermuamalah, terutama di bidang ekonomi.
Allah SWT mewahyukan agama Islam ini di tanah yang memiliki ekonomi yang tinggi yaitu kepada Bangsa Arab. Bangsa Arab adalah merupakan suatu bangsa yang peradaban kegiatan berekonominya sudah maju dan sudah berkembang pesat dibandingakan dengan bangsa-bangsa di dunia lainnya. Bangsa Arab sudah berpengalaman selama tak kurang dari ratusan tahun dalam kegiatan berekonomi. Bangsa Arab telah melakukan kegiatan ekonomi di jalur perdagangan ketika itu yang terbentang dari Yaman sampai kedaerah-daerah mediteranian. Ajaran Islam yang diwahyukan oleh Nabi Muhammad SAW, Nabi besar kita yang terlahir dari keluarga pedagang, Rasulullah menikah dengan seorang saudagar kaya yaitu Siti Khadijah dan beliaupun melakukan perjalanan berdagang dan bertransaksi sampai kenegeri Syiria.
Kemajuan pembangunan ekonomi dan teori ekonomi, banyak diilhami dan dipengarui oleh kemunculannya budaya Islam yang banyak memberikan kontribusi yang sangat besar, bagi kemajuannya. Pada abad keenam belas, diperkirakan pemahaman yang sudah maju mengenai definisi dan fungsi pasar, telah ditemukan pada bahan kajian akademik para sarjana. Sejarah peradaban kuno sebagai bahan kajian perbandingan, diperkirakan kajian para sarjana muslim mempengaruhi perkembangan pemikiran di sekolah tersebut.

II. Mekanisme Pasar Menurut Islam.

Islam memacu umatnya untuk melakukan berbagai kegiatan untuk meningkatkan kesejahteraan ekonomi dan sosial, salah satunya adalah kegiatan berdagang. Berdagang adalah aktivitas yang paling umum yang dilakukan di dalam pasar. Pasar memainkan peranan yang sangat penting dalam sistem perekonomian. pasar memiliki fungsi strategis, yaitu sebagai sebuah wadah bertemunya para produsen (penjual) dan konsumen (pembeli) dalam kegiatan perdagangan. Kedua pihak tersebut akan saling mempengaruhi dan menentukan harga. Kesepakatan keduanya dalam menentukan harga, haruslah saling memuaskan satu sama lain dan saling ridha. Pencapaian terhadap kepuasan sebagaimana tersebut tentunya haruslah diproses dan ditindak lanjuti secara berkesinambungan, dan masing-masing pihak hendaknya mengetahui dengan jelas apa dan bagaimana keputusan yang harus diambil dalam pemenuhan kepuasan ekonomi tersebut. Islam memiliki rambu-rambu dan aturan main yang dapat diterapkan dipasar dalam upaya menegakan kepentingan semua pihak, rambu dan aturan tersebut terdapat dalam Al-Quran dan Hadist. Seperti dalam Al-Quran Surah Al-Furqan ayat 7.

Surah Al-Furqan ayat 7 :
7. Dan mereka berkata: "Mengapa rasul ini memakan makanan dan berjalan di pasar-pasar? Mengapa tidak diturunkan kepadanya seorang malaikat agar malaikat itu memberikan peringatan bersama-sama dengan dia?,

Surah Al-Furqan ayat 20 :
20. Dan Kami tidak mengutus rasul-rasul sebelummu, melainkan mereka sungguh memakan makanan dan berjalan di pasar-pasar. Dan Kami jadikan sebahagian kamu cobaan bagi sebahagian yang lain. Maukah kamu bersabar?; dan adalah Tuhanmu Maha Melihat.

Banyak para pemikir-pemikir ekonomi Islam yang berbicara mengenai mekanisme pasar menurut konsep Islam tentunya, seperti diantaranya, Abu Yusuf (731-798), Abdul Hamid Al-Ghazali (1058-1111), Ibnu Taimiyah (1263-1328), dan yang terakhir Ibnu Khaldun (1332-1404).

A. Mekanisme Pasar Menurut Abu Yusuf (731-798).
Para sarjana muslim telah menulis jauh sebelum para skolastik Eropa abad pertengahan yang menawarkan diskursus mekanisme pasar dan penetapan harga yang lebih rinci dan canggih. Catatan yang paling awal ditemukannya mengenai peningkatan dan penurunan produksi yang berkaitan dengan perubahan suatu harga adalah yang dikemukakan oleh Abu Yusuf.
Abu Yusuf adalah seorang mufti pada kekhalifahan Harun Al-Rasyid. Ia menulis buku pertama tentang sistem perpajakan dalam Islam yang berjudul Kitab Al-Kharaj. Buku ini ditulis berdasarkan permintaan khalifah untuk digunakan sebagai panduan manual perpajakan.
Berbeda dengan pemahaman saat itu yang beranggapan bila tersedia sedikit barang maka hrga akan mahal dan sebaliknya, Abu Yusuf menyatakan, “Tidak ada batasan tertentu tentang murah dan mahal yang dapat dipastikan. Murah bukan karena melimpahnya makanan, demikian juga mahal tidak disebabkan kelangkaan makanan. Murah dan mahal adalah ketentuan Allah. Kadang-kadang makanan berlimpah, tetapi tetap mahal dan kadang-kadang makanan sangat sedikit tetapi murah.” (Abu Yusuf, Kitab Al-Kharaj Beirut: Dar al-Ma’rifah,1979,hlm.48).[1]
Bahwa peryataan Abu Yusuf diatas sepertinya menyangkal pendapat umum tentang hubungan terbalik antara penawaran dan harga. Pada kenyataannya, harga tidak bergantung pada penawaran saja, tetapi juga bergantung pada kekuatan permintaan. Karena itu, peningkatan atau penurunan harga tidak selalu berhubungan dengan penurunan atau peningkatan dalam produksi, Abu Yusuf menegaskan bahwa ada variabel lain yang mempengaruhi, tetapi dia tidak menjelaskan lebih rinci. Bisa jadi variabel itu adalah pergeseran dalam permintaan atau jumlah uang yang beredar disuatu negara, atau penimbunan dan penahanan barang, atau semua hal tersebut. Patut dicatat bahwa Abu Yusuf menuliskan teorinya sebelum Adam Smith menulis The Wealth of Nations.
Karena Abu Yusuf tidak membahas lebih rinci apa yang disebutkannya sebagai variabel lain, ia tidak menghubungkan fenomena yang diobservasinya terhadap perubahan dalam penawaran uang. Namun, pernyataannya tidak menyangkal pengaruh dari permintaan dan penawaran dalam penentuan harga (Muhammad Nejatullah Siddiqi, Abu Yusuf Ma’ahi fikr, Economic Thought of Abu Yusuf, in Fikr va Najar (Aligarh), vol 5, No. 1, Januari 1964, hlm. 86).[2]
Menurut Muhammad Nejatullah Siddiqi, ucapan Abu Yusuf harus diterima sebagai pernyataan hasil pengamatannya saat itu, yakni keberadaan yang bersamaan antara melimpahnya barang dan tingginya harga serta kelangkaan barang dan harga rendah.[3]

B. Mekanisme Pasar Menurut Abdul Hamid Al-Ghazali (1058-1111).
Pandangan Abdul Hamid Al-Ghazali (1058-1111), Mungkin cukup mengejutkan jika dia menyajikan penjabaran yang rinci akan peranan aktivitas perdagangan dan timbulnya pasar yang harganya bergerak sesuai kekuatan permintaan dan penawaran. Maklum ia dikenal sebagai ahli tasawuf. Bagi Ghazali, pasar merupakan bagian dari “keteraturan alami”. Secara rinci dia juga menerangkan bagaimana evolusi terciptanya pasar.
Al-Ghazali mengatakan “Dapat saja petani hidup dimana alat-alat pertanian tidak tersedia. Sebaliknya, pandai besi dan tukang kayu hidup dimana lahan pertanian tidak ada. Namun secara alami, mereka akan saling memenuhi kebutuhan masing-masing. Dapat pula terjadi tukang kayu membutuhkan makanan,tetapi petani tidak memerlukan alat-alat tersebut atau sebaliknya. Keadaan ini menimbulkan masalah. Oleh, karena itu, secara alami pula orang-orang akan terdorong untuk menyediakan tempat peyimpanan alat-alat di satu pihak dan tempat penyimpanan hasil pertanian di pihak lain. Tempat inilah yang kemudian didatangi pembeli sesuai dengan kebutuhannya masing-masing sehingga terbentuklah pasar. Petani,tukang kayu, dan pandai besi yang tidak dapat langsung melakukan barter, juga terdorong pergi kepasar ini. Bila dipasar juga tidak ditemukan orang yang mau melakukan barter, ia akan menjual pada pedagang dengan harga yang relatif murah untuk kemudian disimpan sebagai persediaan. Pedagang kemudian menjualnya dengan suatu tingkat keuntungan. Hal ini berlaku untuk setiap jenis barang.” (Ihya Ulumuddin, III:227).[4]
Imam Ghazali juga secara eksplisit menjelaskan perdagangan regional. Al-Ghazali mengatakan, “ Selanjutnya praktek-praktek ini terjadi di berbagai kota dan negara. Orang –orang melakukan perjalanan keberbagai tempat untuk mendapatkan alat-alat makanan dan membawanya ketempat lain. Urusan ekonomi orang diorganisasikan dikota-kota dimana tidak seluruh makanan dibutuhkan. Keadaan inilah yang pada gilirannya menimbulkan kebutuhan terhadap alat transportasi. Terciptalah kelas perdagangan regional dalam masyarakat. Motifnya tentu saja mencari keuntungan. Para pedagang ini bekerja keras memenuhi kebutuhan orang lain dan mendapat keuntungan, dan keuntungan ini akhirnya dimakan oleh orang lain juga.” (Ihya,III:227).[5]
Jelaslah, Imam Ghazali menyadari kesulitan sistem barter, perlunya spesialisasi dan pembagian kerja menurut regional dan sumber daya setempat. Ia juga menyadari pentingnya perdagangan untuk memberikan nilai tambah dengan menyediakannya pada waktu dan tempat dibutuhkan.
Ghazali tidak menolak kenyataan bahwa keuntungnlah yang menjadi motif perdagangan. Lebih Jauh, Ghazali menjabarkan pentingnya peran pemerintah dalam menjamin keamanan jalur perdagangan demi kelancaran perdagangan dan pertumbuhan ekonomi. Akhirnya ia memberikan definisi yang jelas tentang etika bisnis. (Ihya, II:75, 78, 79).[6]
Walaupun Ghazali tidak menjelaskan permintaan dan penawaran dalam terminologi modern, beberapa paragraf dari tulisannya jelas menunjukan bentuk kurva penawaran dan permintaan. Untuk kurva penawaran yang “naik dari kiri bawah kekanan atas”dinyatakan oleh dia sebagai”jika petani tidak mendapatkan pembeli dan barangnya, ia akan menjualnya pada harga yang lebih murah (Ihya, III:227).[7] Sementara untuk kurva permintaan yang”turun dari kiri atas kekanan bawah”dijelaskan oleh dia sebagai “harga dapat diturunkan dengan mengurangi permintaan.”(Ihya, III:87).[8]
Untuk zamannya, agak mengejutkan bahwa Ghazali telah pula paham akan konsep elastisitas permintaan “Mengurangi margin keuntungan dengan menjual pada harga yang lebih murah akan meningkatkan volume penjualan dan ini pada gilirannya akan meningkatkan keuntungan.” (Ihya, II:80).[9] Bahkan ia telah pula mengidentifikasikan produk makanan sebagai komoditas dengan kurva permintaan yang inelastis. “Karena makanan adalah kebutuhan pokok, perdagangan makanan harus seminimal mungkin didorong oleh motif mencari keuntungan untuk menghindari eksploitasi melalui pengenaan harga yang tinggi dan keuntungan yang besar. Keuntungan semacam ini seyogyanya dicari dari barang-barang yang bukan merupakan kebutuhan pokok.” (Ihya, II:73).[10]
Imam Ghazali dan juga para pemikir pada zamannya ketika membicarakan harga biasanya langsung mengaitkannya dengan keuntungan. Keuntungan belum secara jelas dikaitkan dengan pendapatan dan biaya. Bagi Ghazali keuntungan adalah kompensasi dari kepayahan perjalanan, resiko bisnis, dan ancaman keselamatan diri sipedagang (Ihya, IV,110).[11] Walaupun, ia tidak setuju dengan keuntungan yang berlebih untuk menjadi motivasi pedagang. Bagi Ghazali keuntunganlah yang menjadi motivasi pedagang. Namun bagi Ghazali keuntungan sesungguhnya adalah keuntungan diakherat kelak (Ihya, II:75-6, 84).[12]

C. Mekanisme Pasar Menurut Ibnu Taimiyah (1263-1328).
Ibnu Taimiyah jelas tidak pernah membaca Wealth of Nations karena ia hidup lima abad sebelum kelahiran Adam Smith, bapak ekonomi klasik yang menulis buku termasyur itu. Namun, ketika masyarakat pada masanya beranggapan bahwa peningkatan harga merupakan akibat dari ketidakadilan dan tindakan melanggar hukum dari pihak penjual atau mungkin sebagai akibat manipulasi pasar, Taimiyah langsung membantahnya. Dengan tegas, ia mengatakan bahwa harga ditentukan oleh kekuatan penawaran dan permintaan.
Ia menyatakan bahwa naik dan turunnya harga tidak selalu disebabkan oleh tindakan tidak adil dari sebagian orang yang terlibat transaksi. Bisa jadi penyebabnya adalah penawaran yang menurun akibat inefisiensi produksi, penurunan jumlah impor barang-barang yang diminta atau juga tekanan pasar. Karena itu, jika permintaan terhadap barang meningkat, sedangkan penawaran menurun, harga barang tersebut akan naik. Begitu pula sebaliknya. Kelangkaan dan melimpahnya barang mungkin disebabkan dengan tindakan yang adil atau mungkin juga karena tindakan yang tidak adil (Ibnu Taimiyah, Majmu Fatawa Shaykh al-Islam, VIII:583).[13]
Menurut Taimiyah, penawaran bisa datang dari produksi domistik dan impor. Perubahan dalam penawaran digambarkan sebagai peningkatan atau penurunan dalam jumlah barang yang ditawarkan, sedangkan permintaan sangat ditentukan oleh selera dan pendapatan. Besar-kecilnya kenaikan harga bergantung pada besarnya perubahan penawaran dan atau permintaan. Bila seluruh transaksi sudah sesuai aturan, kenaikan harga yang terjadi merupakan kehendak Allah (Ibnu Taimiyah, al-hisbah fi al-Islam, 24).[14] Hal tersebut menunjukan sifat pasar yang impersonal. Dibedakan pula dua faktor penyebab pergeseran kurva penawaran dan permintaan, yaitu tekanan pasar yang otomatis dan perbuatan melanggar hukum dari penjual, misalnya penimbunan.
Adapun faktor lain yang mempengaruhi penawaran dan permintaan antara lain adalah intensitas dan besarnya permintaan, kelangkaan atau melimpahnya barang, kondisi kepercayaan, serta diskonto dari pembayaran tunai. Permintaan terhadap barang acap kali berubah-ubah. Perubahan tersebut bergantung pada jumlah penawaran, jumlah orang yang menginginkannya, lemah-kuatnya dan besar-kecilnya kebutuhan terhadap barang tersebut. Bila penafsiran ini benar, Ibnu Taimiyah telah mengasosiasikan harga tinggi dengan intensitas kebutuhan sebagaimana kepentingan relatif barang terhadap total kebutuhan pembeli. Bila kebutuhan kuat dan besar, harga akan naik. Demikian pula sebaliknya.
Harga juga di pengaruhi oleh tingkat kepercayaan terhadap orang-orang yang terlibat dalam transaksi. Bila seseorang cukup mampu dan terpercaya dalam membayar kredit, penjual akan senang melakukan transaksi dengan orang tersebut. Namun, apabila kredibilitas seseorang dalam masalah kredit telah diragukan, penjual akan ragu untuk melakukan transaksi dengan orang tersebut dan cenderung memasang harga tinggi. Demikian juga dengan melakukan kontrak (Ibnu Taimiyah, Majmu Fatawa, op.cit, XXIX:523-525).[15]
Ibnu Taimiyah mengemukakan relevansi antara kredit terhadap penjualan. Implikasinya yaitu transaksi kredit merupakan hal yang wajar. Ketika menetapkan harga, para penjual harus memperhitungkan ketidakpastian pembayaran pada masa mendatang. Ia juga menengarai kemungkinan penjual menawarkan diskon untuk transaksi tunai. Argumen Ibnu Taimiyah bukan hanya menunjukan kesadarannya mengenai kekuatan penawaran dan permintaan, melainkan juga perhatiannya pada insentif, disinsentif, ketidakpastian, dan resiko yang terlibat dalam transaksi pasar. Keduanya menunjukan kontribusi yang berarti terhadap analisis ekonomi, terutama ketika seseorang berada pada era Ibnu Taimiyah menulis.
Harus dicatat disini bahwa Ibnu Taimiyah tidak pernah menggunakan istilah kompetisi (konsep yang muncul pada akhir evolusi pemikiran ekonomi) ataupun menjelaskan kondisi dari kompetisi sempurna dalam istilah kontemporer. Karena itu, ia kemudian menulis bahwa untuk memaksa orang agar menjual berbagai benda yang tidak diharuskan untuk menjualnya atau melarang mereka menjual benda-benda yang diperbolehkan untuk dijual, adalah tidak adil dan karenanya melanggar hukum (Ibnu Taimiyah, al-Hisbah, 41).[16] Dalam istilah kontemporer, hal ini secara jelas merujuk pada kebebasan penuh untuk masuk atau keluar pasar.
Lebih jauh, ia mengkritik adanya kolusi antara pembeli dan penjual (ibid,hlm.25).[17] Ia menyokong homogenitas dan standarisasi produk dan melarang pemalsuan produk serta penipuan pengemasan produk untuk dijual (ibid, hlm 21).[18] Penekanannya terhadap pasar dan komoditas, seperti juga kontrak jual beli, bergantung pada izin, dan izin memerlukan pengetahuan dan pemahaman (ibid, hlm.49, 50).[19]
Ibnu Taimiyah menentang peraturan yang berlebihan ketika kekuatan pasar secara bebas bekerja untuk menentukan harga yang kompetitif. Dengan tetap memperhatikan pasar tidak sempurna, ia merekomendasikan bahwa bila penjual melakukan penimbunan dan menjual pada harga yang lebih tinggi dibandingkan dengan harga normal, padahal orang-orang membutuhkan barang ini, maka para penjual diharuskan untuk menjualnya pada tingkat harga ekuivalen (ibid, hlm.25).[20] Secara kebetulan, konsep ini bersinonim dengan apa yang disebut harga yang adil. Lebih jauh bila ada elemen-elemen monopoli (khususnya dalam pasar bahan makanan dan kebutuhan pokok lainnya), Pemerintah harus turun tangan melarang kekuatan monopoli (ibid hlm. 25-26).[21]
D. Mekanisme Pasar Menurut Ibnu Khaldun (1332-1404).
Ibnu Khaldun adalah ulama besar dan juga dikenal sebagai bapak ilmu ekonomi. Karya monumental Ibnu Khaldun adalah al-Muqaddimah yang menulis secara khusus satu bab berjudul “ Harga-harga di kota-kota”. Ia membagi jenis barang menjadi barang kebutuhan pokok dan barang mewah. Menurut dia, bila suatu kota berkembang dan selanjutnya populasinya bertambah banyak, harga-harga barang kebutuhan pokok akan mendapat prioritas pengadaannya. Akibatnya penawaran meningkat dan ini berarti turunnya harga. Adapun untuk barang-barang mewah, permintaannya akan meningkat sejalan dengan berkembangnya kota dan berubahnya gaya hidup. Akibatnya, harga barang mewah meningkat.
Ibnu Khaldun juga menjelaskan mekanisme penawaran dan permintaan dalam menentukan harga keseimbangan. Secara lebih rinci, ia menjabarkan pengaruh persaingan diantara konsumen untuk mendapatkan barang pada sisi permintaan. Setelah itu, ia pula menjelaskan pula pengaruh meningkatnya biaya produksi karena pajak dan pungutan-pungutan lain di kota tersebut, pada sisi penawaran (The Muqaddimah of Ibnu Khaldun, II:276-8).[22]
Pada bagian lain dari bukunya, Ibnu Khaldun menjelaskan pengaruh naik dan turunnya penawaran terhadap harga. Ia mengatakan, “ Ketika barang-barang yang tersedia sedikit, harga-harga akan naik. Namun, bila jarak antarkota dekat dan aman untuk melakukan perjalanan, akan banyak barang yang diimpor sehingga ketersediaan barang akan melilmpah, dan harga-harga akan turun” (ibid. 338).[23] Hal ini menunjukan bahwa Ibnu Khaldun, sebagaimana Ibnu Taimiyah, telah mengidentifikasikan kekuatan permintaan dan penawaran sebagai penentu keseimbangan harga.
Bahwa Al-Ghazali pernah menyatakan bahwa motif berdagang adalah mencari keuntungan (Ihya, II:73).[24] Ghazali juga menyatakan bahwa hendaknya motivasi keuntungan itu hanya untuk barang-barang yang bukan kebutuhan pokok. Keuntungan yang didefinisikan Ghazali adalah sebagai keuntungan di dunia maupun di akaherat.
Nah, Ibnu Khaldun menjelaskan secara lebih rinci. Menurut dia, keuntungan yang wajar akan mendorong tumbuhnya perdagangan, sedangkan keuntungan yang sangat rendah akan membuat lesu perdagangan karena pedagang kehilangan motivasi. Sebaliknya, bila pedagang mengambil keuntungan sangat tinggi, juga akan membuat lesu perdagangan karena lemahnya permintaan konsumen (ibid, 340-341).[25]

III. Kebijakan Harga Menurut Islam.

Dalam perspektif ekonomi Islam, pasar (market) mendapat kedudukan yang penting. Pada masanya, Rasulullah sangat menghargai harga yang terbentuk oleh pasar yang dikatakan beliau sebagai harga yang adil dan menyuruh umatnya agar mematuhi harga pasar ini. Beliau menolak untuk membuat kebijakan penetapan harga pada saat tingkat harga ketika itu di Madinah tiba-tiba naik. Sepanjang kenaikan terjadi karena kekuatan permintaan dan penawaran yang murni, yang tidak disertai dengan dorongan-dorongan monopolistik dan monopsonistik, maka tidak ada alasan untuk tidak menghormati harga pasar.
Dalam sebuah hadist yang diriwayatkan oleh enam imam hadis utama (kecuali Al Nasai) seorang sahabat bertanya kepada rasulullah ”Wahai rasulullah tentukanlah harga untuk kita !”. Rasul menjawab, ”Allah itu sesungguhnya adalah penentu harga, penahan, pencurah, serta pemberi rezeki. Aku mengharapkan dapat menemui Tuhanku dimana salah seorang dari kalian tidak menuntutku karena kedzaliman dalam hal harta dan darah”
Hadis di atas maknanya, bahwa harga yang terbentuk di pasar merupakan hukum alam (sunnatullah), individu tidak dapat mempengaruhi pasar, sebab pasar adalah kekuatan kolektif yang telah menjadi kekuatan Allah. Pelanggaran terhadap harga pasar, yaitu penetapan harga merupakan suatu ketidakadilan (zulm/injustice) yang akan dituntut pertanggungjawabannya di hadapan Allah.

IV. Kaidah Fiqh dalam Mekanisme Pasar.

Sebagaimana disebutkan di atas bahwa penentuan harga tidak terlepas dari kekuatan-kekuatan pasar, yaitu kekuatan permintaan dan kekuatan penawaran. Dalam konsep Islam, pertemuan permintaan dengan penawaran tersebut haruslah terjadi secara rela sama rela, tidak ada pihak yang merasa terpaksa untuk melakukan transaksi pada tingkat harga tersebut. Keseimbangan pasar terjadi pada saat perpotongan antara kurva supply dan demand dalam keadaan ’an taraddim minkum (rela sama rela). Bila ada yang mengganggu keseimbangan ini, maka pemerintah harus melakukan intervensi ke pasar. Seperti firman Allah dalam Surah An-Nisaa ayat 29.

Surah An-Nisaa ayat 29.
29. Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil, kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan suka sama-suka di antara kamu. Dan janganlah kamu membunuh dirimu; sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepadamu.

Dalam hal harga, para ahli fiqh merumuskannya sebagai the price of the equivalent (istilah fiqihnya thaman al mithl). Konsep the price of the equivalen ini mempunyai implikasi penting dalam ilmu ekonomi, yaitu keadaan pasar yang kompetitif. Merupakan konsekuensi dari konsep tersebut, dalam ekonomi Islam, monopoli, duopoly, dan oligopoly dalam artian hanya ada satu penjual, dua penjual, atau beberapa penjual tidak dilarang keberadaannya, selama mereka tidak mengambil keuntungan di atas keuntungan normal.
Hadist Rasulullah SAW. Menjelaskan dengan lebih rinci tentang hal yang diperkenankan dalam transaksi perdagangan yang dilakukan oleh seorang muslim dalam bentuk larangan-larangan sesuai dengan kondisi yang saat itu terjadi. Beberapa hadist tersebut adalah :
“ Nabi melarang jual beli anak kambing yang masih dalam kandungan ibunya” (HR. Bukhari, Muslim, An-Nasa’I dan Tirmidzi). Artinya ” Nabi melarang jual beli ikan dalam air (HR. Ahmad). Artinya ” Nabi melarang adanya dua jenis transaksi dalam satu akad/kontrak (HR. Abu Daud, Tirmidzi, dan Nasa’i). Artinya ” Janganlah kamu menjual sesuatu yang tidak dimiliki (HR. Ahmad, Ibnu Majah, dan Tirmidzi). Artinya “ Nabi melarang menjual barang yang belum diserahterimakan” (HR. Bukhari dan Muslim). Artinya ” Nabi melarang kami berjual beli dengan Talaq ar-Rukhban dab Hadir al-Bad” (HR. Muslim). Artinya ” Nabi melarang jual beli dengan penawaran palsu” (HR. Bukhari dan Muslim).

Dari Inbu Abbas, ”Rasulullah SAW. Bersabda, ’ Jangan kamu mencegat orang-orang yang akan ke pasar di jalan sebelum mereka sampai di pasar’.” (Sepakat Ahli Hadist).

Dari Abu Hurairah, ” Rasulullah SAW. Telah bersabda, ‘ Janganlah diantara kamu menjual sesuatu yang sudah di beli oleh orang lain’.”(Sepakat Ahli Hadist).

Dari Ibnu Umar, ” Nabi SAW. telah melarang menjual buah-buahan sebelum buahnya tampak masak (pantas diambil).” (Sepakat ahli Hadist).

Dari Abu Hurairah. Ia berkata, ” Nabi SAW. telah melarang memperjualbeliakan barang yang mengandung tipu daya.” (Riwayat Muslim dan lainnya).

”Janganlah engkau menjual sesuatu yang engkau beli sebelum engkau terima ”.(Riwayat Ahmad dan Baihaqi).

Dari Abu Hurairah, ” Bahwasannya Rasulullah SAW. Pernah melalui onggokan makanan yang bakal dijual, lantas beliau memasukan tangan beliau kedalam onggokan itu, tiba-tiba didalamnya jari beliau meraba yang basah. Beliau keluarkan jari beliau yang basah itu, seraya berkata, ’Apakah ini ? ’ jawab yang punya makanan, ’ Basah karena hujan, ya Rasulullah. ’ Beliau bersabda, ’ Mengapa engkau tidak taruh di bagian atas supaya dapat dilihat orang ? Barang siapa yang menipu, maka ia bukan umatku’.” (Riwayat Muslim). Artinya ” Nabi melarang jual beli yang mengandung unsur tipu daya”. (HR. Muslim dan Ahmad).
Islam mengatur agar persaingan di pasar dilakukan dengan adil. Setiap bentuk yang dapat menimbulkan ketidakadilan dilarang, antara lain :
Talaqqi rukban dilarang karena pedagang yang menyongsong di pinggir kota mendapat keuntungan dari ketidaktahuan penjual dari kampung akan harga yang berlaku di kota. Mencegah masuknya pedagang ke kota ini (entry barrier) akan menimbulkan pasar yang tidak kompetitif.
Mengurangi timbangan dilarang karena barang dijual dengan harga yang sama untuk jumlah yang lebih sedikit.
Menyembunyikan cacat barang dilarang karena penjual mendapatkan harga yang baik untuk kualitas yang buruk.
Menukar kurma kering dengan kurma basah dilarang karena takaran kurma basah ketika kering bisa jadi tidak sama dengan kurma kering yang ditukar.
Menukar satu takar kurma kualitas bagus dengan dua takar kurma kualitas sedang dilarang, karena setiap kualitas kurma mempunyai harga pasarnya. Rasulullah menyuruh menjual kurma yang satu, kemudian membeli kurma yang lain dengan uang.
Transaksi Najasy dilarang karena si penjual menyuruh orang lain memuji barangnya atau menawar dengan harga tinggi agar orang lain tertarik.
Ikhtikar dilarang, yaitu mengambil keuntungan di atas keuntungan normal dengan menjual lebih sedikit barang untuk harga yang lebih tinggi.
Ghaban fa hisy (besar) dilarang, yaitu menjual di atas harga pasar.

V. Kesimpulan.

Mekanisme pasar menurut Islam adalah suatu sistem mekanisme pasar yang diatur dalam Konsep Islam dan Konsep Islam memiliki rambu-rambu dan aturan main yang dapat diterapkan dipasar dalam upaya menegakan kepentingan semua pihak, rambu dan aturan tersebut terdapat dalam Al-Quran dan Hadist.

Daftar Pustaka

Ekonomi Islam Suatu Kajian Kontemporer, Adiwarman A. Karim, Gema Insani, 2001.
Fiqh Islam, Sulaiman Rasjid., Sinar Baru Algensinndo, 2001.
Pengenalan Ekslusif Ekonomi Islam, Mustafa Edwin Nasution, Budi Setyanto, Nurul Huda, Muhammad Arief Mufraeni, Bey Sata Utama, Kencana Prenada Media Group, 2006.
Quran Player, “ Versi 2.0.1.0”, Copyright 2005 Wawan Sjachriyanto dari Ali Abdurrahman Al- Hudzaifi Muhammad Ayyub.
Beberapa Literatur dari Internet.

[1] Adiwarman A.Karim, Ekonomi Islam suatu kajian kontemporer, Gema Insani 2001, hlm. 154
[2] Ibid hlm. 156
[3] Ibid hlm. 156
[4] Ibid hlm 157
[5] Ibid hlm 158
[6] Ibid hlm 158
[7] Ibid hlm 158
[8] Ibid hlm 158
[9] Ibid hlm 158
[10] Ibid hlm 158
[11] Ibid hlm 159
[12] Ibid hlm 159
[13] Ibid hlm 160
[14] Ibid hlm 160
[15] Ibid hlm 161
[16] Ibid hlm 161
[17] Ibid hlm 161
[18] Ibid hlm 161
[19] Ibid hlm 162
[20] Ibid hlm 162
[21] Ibid hlm 162
[22] Ibid hlm 163
[23] Ibid hlm 164
[24] Ibid hlm 164
[25] Ibid hlm 164

Monday, 1 September 2008

Filantropi Menurut Al- Quran & Hadist

Oleh : Slamet Wiharto

Istilah Filantropi, berasal dari Bahasa Yunani yaitu “Philanthropy.” Kata philantropy itu terdiri dari dua kata yaitu “philos” dan “anthropos”, kata philos yang berarti cinta atau kasih, dan anthropos yang berarti manusia. Dan bila diartikan, kira-kira berarti cinta atau belas kasih kepada sesama manusia. Maka filantropi dapat diartikan sebagai, upaya menolong sesama, kegiatan berderma, atau kebiasaan beramal dari seseorang yang dengan ikhlas menyisihkan sebagian harta atau sumberdaya yang dimilikinya untuk disumbangkan kepada orang lain yang memerlukan, atau sebagai kebaikan hati yang diwujudkan dalam perbuatan baik, dengan menolong dan memberikan sebagian harta, tenaga maupun fikiran secara sukarela untuk kepentingan orang lain.

Bila dilihat dalam kehidupan kita sekarang ini, di zaman yang serba sulit dan penuh dengan ketidak pastian, sangat terlihat sekali jurang pemisah antara si kaya dan si miskin yang sangat dapat memicu kecemburuan sosial dalam hidup bermasyarakat. filantropi dalam hal ini sangat berperan penting dalam menjembatani antara si kaya dan si miskin dalam kehidupannya.

Dalam ajaran Islam sangat dianjurkan/ diperintahkan kepada umatnya, khususnya orang kaya, untuk perduli kepada orang miskin, atau orang yang berkelebihan harta untuk memberikan sebahagian hartanya kepada orang yang kekurangan. Karena seperti halnya menyantuni anak yatim, janda miskin, orang yang terbelit oleh hutang dan orang yang kekurangan adalah suatu amanah dalam keagamaan yang luhur. Upaya atau kegiatan berderma inilah yang disebut sebagai filantropi Islam. Perintah atau anjuran berderma inilah terkandung nilai nilai ideal kemurahan hati, keadilan sosial, saling berbagi dan saling memperkuat diantara umat islam.

Dalam Ajaran Islam, perintah atau anjuran untuk mengupayakan kegiatan- kegiatan dalam berderma, dapat di wujudkan dengan kegiatan berzakat, berinfak, bershadaqah dan berwakaf. Dengan perwujudan upaya- upaya itulah maka, Istilah filantropi dalam Islam sangat populer dengan kata “ZISWAF” yaitu sebuah singkatan dari kata; Zakat, Infak, Sedekah dan Wakaf .

Pengaturan perintah atau anjuran dalam ZISWAF telah diatur dalam Al-Quran dan Hadist. Al-Quran dan Hadist adalah pedoman/ pegangan hidup yang berisi tentang perintah, aturan larangan dan anjuran dalam berkehidupan agar selamat dunia maupun akherat bagi umat dan ajaran Islam. Seperti dalam Al-Quran :

Surah Al- Baqarah : 177
177. Bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat itu suatu kebajikan, akan tetapi sesungguhnya kebajikan itu ialah beriman kepada Allah, hari kemudian, malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabatnya, anak-anak yatim, orang-orang miskin, musafir (yang memerlukan pertolongan) dan orang-orang yang meminta-minta; dan (memerdekakan) hamba sahaya, mendirikan shalat, dan menunaikan zakat; dan orang-orang yang menepati janjinya apabila ia berjanji, dan orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan dan dalam peperangan. Mereka itulah orang-orang yang benar (imannya); dan mereka itulah orang-orang yang bertakwa.

Dalam suatu riwayat dikemukakan bahwa Qatadah menerangkan tentang kaum Yahudi yang menganggap bahwa yang baik itu shalat menghadap ke barat, sedang kaum Nashara mengarah ke timur, sehingga turunlah ayat tersebut di atas (S. 2: 177). (Diriwayatkan oleh Abdur-razzaq dari Ma'mar, yang bersumber dari Qatadah. Diriwayatkan pula oleh Ibnu Abi Hatim yang bersumber dari Abil 'Aliyah.) Dalam riwayat lain dikemukakan bahwa turunnya ayat ini (S. 2: 177) sehubungan dengan pertanyaan seorang laki-laki yang ditujukan kepada Rasulullah SAW tentang "al-Bir" (kebaikan). Setelah turun ayat tersebut di atas (S. 2. 177) Rasulullah SAW memanggil kembali orang itu, dan dibacakannya ayat tersebut kepada orang tadi. Peristiwa itu terjadi sebelum diwajibkan shalat fardhu. Pada waktu itu apabila seseorang telah mengucapkan "Asyhadu alla ilaha illalah, wa asyhadu anna Muhammadan 'Abduhu wa rasuluh", kemudian meninggal di saat ia tetap iman, harapan besar ia mendapat kebaikan. Akan tetapi kaum Yahudi menganggap yang baik itu ialah apabila shalat mengarah ke barat, sedang kaum Nashara mengarah ke timur.
(Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir dan Ibnu Mundzir yang bersumber dari Qatadah.)

Ayat ini diturunkan untuk menolak anggapan orang-orang Yunani dan Nasrani yang menyangka bahwa kebajikan itu dapat diartikan dengan menghadapkan wajah ke arah timur dan barat sewaktu sholat. Lalu dijelaskanlah bagaimana ciri orang yang beriman, dan salah satunya adalah orang yang memberikan harta yang dicintainya untuk kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, orang-orang yang dalam perjalanan, orang-orang yang meminta-minta, dan pada budak (sedekah, infak dan wakaf), juga orang orang yang menunaikan zakat.

Surah Al-Baqarah : 267
267. Hai orang-orang yang beriman, nafkahkanlah (di jalan Allah) sebagian dari hasil usahamu yang baik-baik dan sebagian dari apa yang Kami keluarkan dari bumi untuk kamu. Dan janganlah kamu memilih yang buruk-buruk lalu kamu nafkahkan daripadanya, padahal kamu sendiri tidak mau mengambilnya melainkan dengan memicingkan mata terhadapnya. Dan ketahuilah, bahwa Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji.

Surah Al-Imran : 92
92. Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebajikan (yang sempurna), sebelum kamu menafkahkan sebahagian harta yang kamu cintai. Dan apa saja yang kamu nafkahkan, maka sesungguhnya Allah mengetahuinya.

Surah Al-Imran : 133
133. Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa,

Surah Al-Imran : 134
134. (yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan mema`afkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.

Surah At- Taubah : 103
103. Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka, dan mendo`alah untuk mereka. Sesungguhnya do`a kamu itu (menjadi) ketenteraman jiwa bagi mereka. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.

Begitupun dengan Hadist, seperti dalam Hadist :
36.Hadist yang bersumber dari Malik bin Anas dari pamannya Abu Suhail bin Malik dari ayahnya bahwasannya ia telah mendengar Thalhah bin Ubaidillah berkata : “ Seorang laki- laki penduduk Najd datang kepada Rasulullah Saw., Morak- marik (rambut) kepalanya, kami mendengar dengan suaranya dan kami tidak memahami apa yang dikatakannya sehingga dekat, tiba- tiba ia tanya tentang Islam. Lalu Rasulullah Saw. Bersabda : Shalat lima kali dalam sehari semalam”. Lalu ia berkata : “ Apakah ada kewajiban atasku selainnya?” Beliau bersabda : “ Tidak kecuali yang sunnah”. Rasulullah Saw. Bersabda : “ Dan puasa Ramadhan”. Ia bertanya : “ Apakah ada kewajiban atasku selainnya?” Beliau bersabda : “ Tidak kecuali sunnah”. Thalhah berkata : “ Dan Rasulullah menuturkan kepadanya zakat”. Ia berkata : Apakah wajib atasku selainnya?” Beliau bersabda : “ Tidak kecuali sunnah”. Thalhah berkata : Lalu laki- laki itu berpaling seraya berkata : “ Demi Allah saya tidak menambah atas ini dan tidak pula menguranginya”. Rasulullah Saw. Bersabda : “ Berbahagialah dia, jika benar”.

Hadist yang diriwayatkan oleh Muadz bin Jabal r.a. bahwa Rasulullah bersabda,
“ Maka, ajaklah mereka untuk bersaksi bahwa tiada tuhan selain Allah dan Muhammad adalah Rasulullah.” Kemudian Rasulullah menyebutkan perintah shalat, lalu bersabda, “ Apabila mereka menantimu, maka beritahukanlah kepada mereka bahwa Allah mewajibkan sedekah atas orang- orang kaya dan diberikan kepada orang- orang fakir dari mereka.” (Muttafaq Alaih).
Dalam hadist diatas Rasulullah menjadikan keislaman seseorang sebagai syarat kewajiban zakat atasnya.

Hadist yang diriwayatkan oleh Muadz bin Jabal r.a. ketika Rasulullah mengutusnya ke Yaman bahwa Rasulullah bersabda, “ Dan beritahukanlah mereka bahwa Allah telah mewajibkan Zakat atas mereka, yang diambil dari orang- orang kaya dan diberikan kepada para fakir di antara mereka.” (Muttafaq Alaih)

Hadist yang diriwayatkan Bukhari, Muslim, Abu Dawud, Tirmidzi, dan Nasa’I bahwa Rasulallah bersabda, “ Sedekahmu kepada kerabatmu adalah sedekah dan penyambung tali silahturahmi.” (HR Bukhari, Muslim, Abu Dawud, Tirmidzi, dan Nasa’I)

Rasulullah bersabda,” Sesungguhnya sedekah memadamkan amarah Tuhan dan menolak kematian yang buruk.” (HR Tirmidzi, dan ia mengatakan bahwa hadist ini adalah Hasan)

Dalam Shahih Bukhari dan Shahih Muslim disebutkan, “ Ada tujuh orang yang mendapat naungan Allah pada hari ketika tidak ada naungan kecuali naungan Allah…”
yang salah satunya adalah, “ Seseorang yang bersedekah dan merahasiakannya, hingga tangan kirinya tidak tahu apa yang disedekahkan oleh tangan kanannya.”

Rasulullah bersabda, “ Sedekah yang diberikan kepada orang miskin adalah sekedar sedekah, sedangkan sedekah kepada kerabat adalah sedekah dan pererat silahturahmi.” (HR Bukhari, Muslim, Abu Dawud, Tirmidzi, Nasa’I dan Ibnu Maajah)

501.Hukum wajib zakat.
Diriwayatkan dari Ibn ‘abbas r.a.: Mu’adz berkata, “ Rasulullah pernah mengutus saya. Beliau bersabda. ‘ Kamu akan mendatangi orang- orang ahli kitab, ajaklah mereka agar mengakui bahwa ‘ tiada tuhan kecuali Allah dan aku utusan Allah’, kalau mereka sudah mematuhinya, beritahukanlah kepada mereka bahwa Allah mewajibkan mereka untuk mengerjakan shalat lima kali sehari semalam. Kalau mereka sudah mematuhinya, beritahukanlah kepada mereka bahwa Allah mewajibkan mereka mengeluarkan zakat, yang dipungut dari orang- orang kaya diantara mereka, kemudian di berikan kepada orang- orang fakir di antara mereka. Kalau mereka sudah mematuhinya, tinggalkanlah harta- harta pilihan mereka, dan takutlah doa orang yang teraniaya karena sesungguhnya tidak ada penghalang antara doanya dan Allah.’’’ (1:37-38—S.M)

Zakat Fitrah hukumnya wajib, seperti dalam hadist yang diriwayatkan oleh Ibnu Umar, “Rasulullah Saw. Mewajibkan zakat fitrah di bulan Ramadhan sebesar satu Sha’ qamh (jenis gandum) atau sya’ir (jenis gandum) bagi setiap muslim, baik laki- laki maupun perempuan, merdeka atau budak, besar ataupun kecil.”

509.Perintah untuk meminta kerelaan kepada orang yang berzakat.
Diriwayatkan dari Jarir bin ‘Abdillah r.a. : Ada beberapa orang Arab Badui datang menemui Rasulullah Saw. Dan berkata, “Banyak orang yang bersedekah datang kepada kami, lalu mereka menganiaya kami.” Jarir berkata, “ Lalu Rasulullah Saw. Bersabda, ‘ Mintalah kerelaan terhadap orang- orang yang bersedekah kepadamu.’’’ Jarir berkata, “ Sejak saya mendengar Rasulullah Saw. Bersabda demikian, saya mendapatkan semua orang yang datang kepada saya memberikan sedekah (Zakat), pasti dia sudah rela terhadap saya.” (3 : 74—S.M.)

510.Mendoakan orang yang berzakat.
Diriwayatkan dari ‘ Abdullah bin Abu Aufa r.a.: Apabila ada suatu kaum yang datang menghadap Rasulullah Saw. Menyerahkan sedekah (zakat) mereka, beliau berdoa, “ Wahai Allah, ampunilah mereka.” Lalu Abu Aufa datang menyerahkan sedekahnya, beliau berdoa, “ Wahai Allah, ampunilah keluarga Abu Aufa.” (3 : 121—S.M.)

511.Pemberian zakat kepada orang yang lemah iman .
Diriwayatkan dari Sa’ad bin abi waqqash r.a.: Rasulullah Saw. Pernah membagi- bagikan harta rampasan perang. Lalu saya mengatakan kepada beliau, “ Wahai Rasulullah, berilah si fulan itu kerena dia adalah seorang mukmin.” NabiSaw. Bertanya, “ Ataukah dia itu muslim?” saya mengatakan sampai tiga kali, dan beliau mengulanginya tiga kali juga, yaitu, “ Ataukah dia itu muslim?” Selanjutnya, beliau bersabda, “ (Sungguh, saya memberikan harta rampasan perang) kepada seseorang, padahal aku lebih mencintai orang lain, yang demikian ini karena aku khawatir dapat menjerumuskannya ke dalam api neraka.” (1 : 91—S.M.)

523.Anjuran Bersedekah.
Diriwayatkan dari Abu Hurairah r.a. : Nabi Saw. Bersabda, “ Aku tidak suka sekiranya gunung Uhud di ubah menjadi emas untukku, lalu disimpan di rumahku selama tiga hari, sedangkan masih ada padaku sisa uang satu dinar yang memang aku persiapkan untuk pembayaran utang.” (3 : 75—S.M.)

525.Anjuran menginfakan harta
Diriwayatkan dari Abu Hurairah r.a. : Rasulullah Saw. bersabda, “ Allah Tabaraka wa taala berfirman, wahai anak Adam, berinfaklah! Niscaya aku akan berinfak kepadamu,’’’ Lalu beliau bersabda, “ Tangan kanan Allah itu penuh, tidak kurang sedikitpun, baik pada malam maupun pada siang hari.” (3 : 77—S.M.)

526.Anjuran bersedekah sebelum (tiba waktunya) ketika tak seorang pun mau menerimanya
Diriwayatkan dari Haritsah bin wahb r.a.: Saya pernah mendengar Rasulullah Saw. Bersabda, “ Bersedekahlah, hampir saja tiba waktunya orang yang berjalan kaki sambil membawa harta sedekahnya, lalu orang yang mau diberi itu berkata, ‘ Kalau saja anda mendatangi kami kemarin, tentu saya akan menerimanya, adapun sekarang, saya tidak membutuhkannya lagi.’’’ Maka, dia tidak mendapatkan seorang pun yang mau menerima sedekahnya. (3 : 84—S.M.)

533.Anjuran untuk bersedekah kepada orang yang membutuhkannya
Diriwayatkan dari Jarir bin ‘Abdillah r.a.: Pada suatu pagi, kami pernah berkumpul bersama Rasulullah Saw. , lalu datanglah suatu kaum dengan berkaki telanjang, berpakaian loreng dan compang- camping sambil menyandang pedang. Kebanyakan dari mereka itu dari Suku Mudhar, bahkan semuanya dari Suku Mudhar. Oleh karena itu, berubahlah wajah Rasulullah Saw. Setelah mengetahui kefakiran mereka. Beliau masuk, lalu keluar lagi, kemudian beliau menyuruh Bilal mengumandangkan Azan dan Iqamah, terus beliau mengerjakan shalat. Setelah itu beliau berkhutbah, diantara khutbah itu, beliau bersabda, “ Wahai sekalian manusia, takutlah kepada Tuhanmu yang telah menciptakanmu dari diri yang satu (Adam) , dan darinya Allah menciptakan istrinya; dan dari keduanya itulah Allah mengembangbiakan Laki- laki dan perempuan yang banyak. Dan bertakwalah kepada Allah, yang dengan menyebut- Nya kamu saling meminta, dan peliharalah hubungan silahturahmi. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu.’’ Lalu beliau membaca ayat dalam surah Al- Hasyr, “ Wahai orang- orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah, dan hendaklah setiap diri memerhatikan apa yang telah di perbuatnya untuk hari esok (kiamat).” Oleh karena itu, hendaknya seseorang mendermakan dinarnya, dirhamnya, pakaiannya, gandumnya dan kurmanya sehingga beliau bersabda, “ (Bersedekahlah) walaupun hanya dengan separuh buah kurma.” Lalu seorang laki- laki Anshar datang membawa satu kantong yang berat, yang hampir- hampir dia tidak kuat mengangkatnya. Kemudian orang- orang mengikutinya berderma, sampai terlihat dua tumpukan makanan dan pakaian, dan saya melihat wajah Rasulullah Saw. Cemerlang berseri- seri. Kemudian Rasulullah Saw. Bersabda “ Barang siapa yang membuat suatu jejak kebaikan dalam Islam, dia mendapatkan pahalanya dan pahala orang yang mengerjakannya sesudahnya, tidak mengurai sedikitpun pahala orang yang mengerjakannya. Barang siapa yang membuat suatu jejak kejelekan dalam Islam, dia mendapatkan dosanya dan dosa orang yang menerjakannya dan sesudahnya, tidak sedikit pun dosa orang yang mengerjakannya.” (3 : 86-87—S.M.)

543A. Orang yang banyak bersedekah dan beramal baik.
Diriwayatkan dari Abu Hurairah r.a. : Rasulullah Saw. bersabda, “ Siapakah diantara kalian yang berpuasa hari ini?” Abu Bakar menjawab, “ Saya.” Beliau bertanya lagi, “ Siapakah diantara kalian yang hari ini ikut mengantarkan jenazah?” Abu Bakar menjawab, “ Saya.” Beliau bertanya lagi, “ Siapakah diantara kalian yang hari ini memberi makan orang miskin?” Abu Bakar menjawab, “ Saya.” Beliau bertanya lagi, “ Siapakah diantara kalian yang pada hari ini menjenguk orang sakit?” Abu Bakar menjawab, “ Saya.” Lalu Rasulullah Saw. Bersabda, “ Seseorang yang terkumpul padanya perkara- perkara tersebut, pasti akan masuk surga.” (3 : 92—S.M.)

543B. Diriwayatkan dari Abu Hurairah r.a. : Rasulullah Saw. bersabda, “ Barang siapa membelanjakan sepasang harta kekayaannya (Kuda, Unta, dan sebagainya) di jalan Allah, di surga nanti akan dia akan mendapatkan panggilan, ‘ Wahai hamba Allah, inilah suatu keberuntungan besar!’ orang yang ahli shalat, dipanggil dari pintu shalat; orang yang ahli berjuang (jihad), dipanggil dari pintu jihad; orang yang ahli sedekah, dipanggil dari pintu sedekah; dan orang yang ahli puasa, dipanggil dari pintu Rayyan.” Lalu Abu Bakaar Al- Shiddiq bertanya, “ Tiadalah seseorang harus dipanggil dari semua pintu itu, maka adakah seseorang yang dipanggil dari semua pintu itu?” Rasulullah Saw. Menjawab, “ ya, dan saya berharap kamu termasuk diantara mereka yang dipanggil dari semua pintu itu.” (3 : 91—S.M.)

Semua kebaikan itu adalah sedekah
544. Diriwayatkan dari Hudzaifah r.a., dari Nabi Saw.: Beliau bersabda, “ Semua kebaikan itu adalah sedekah. “ (3 : 82—S.M.)

Tangan yang di atas ( pemberi ) lebih baik dari tangan yang di bawah (peminta )
560. Diriwayatkan dari Abdulah bin Umar r.a. : Rasulullah Saw. Berkutbah di atas mimbar, beliau menyebut- nyebut sedekah dan menahan diri dari meminta- minta. Beliau bersabda, “ Tangan yang di atas lebih baik daripada tangan yang di bawah; tangan yang di atas adalah pemberi, sedangkan tangan yang di bawah adalah peminta.” (3 : 94—S.M.)

561.Diriwayatkan dari Hakim bin Hisam r.a. : saya pernah meminta sesuatu kepada Nabi Saw., lalu beliau memberinya. Kemudian saya meminta lagi, beliau memberi lagi, Kemudian saya meminta lagi, beliau memberi lagi. Setelah itu beliau bersabda, “ Sesungguhnya, harta benda ini melimpah dan menyenangkan, barang siapa yang menerimanya dengan jiwa bersih, diberkatilah dia. Barang siapa yang menerimanya dengan jiwa serakah , tidak diberkatilah dia; dia tak ubahnya seperti orang makan yang tak kenal kenyang. Tangan di atas itu lebih baik dari tangan di bawah.” lalu beliau memberinya. Kemudian saya meminta lagi, beliau memberi lagi,”(3 : 94—S.M.)

Mewakafkan industri dan menyedekahkan produksi
1000. Diriwayatkan dari Ibn ‘Umar r.a.: ‘ Umar r.a. pernah mendapatkan bagian kebun (dari hasil rampasan perang) di Khaibar. Lalu dia menghadap Nabi Saw. Untuk memohon fatwa tentang kebun itu. Dia berkata, “ Wahai Rasulullah, saya mendapatkan bagian kebun di Khaibar, yang belum pernah saya mendapatkan suatu harta yang lebih berharga daripada kebun itu. Maka, apakah yang harus saya lakukan terhadap kebun itu?” Beliau bersabda, “ Jika kamu mau wakafkanlah kebun itu dan sedekahkanlah hasilnya!” Kemudian ‘Umar menyedekahkan hasil kebun itu, sedangkan kebunnya tidak dijual, tidak dibeli, tidak diwariskan, dan tidak dihibahkan. Selanjutnya, dia berkata,” ‘Umar menyedekahkan hasil kebun itu kepada orang- orang fakir, kaum kerabat, budak, sabilillah ( di jalan Allah ), ibn sabil ( musafir ),dan tamu. Tiada berdosa orang yang mengurusinya untuk memakan sebagian dari penghasilan wakaf itu dengan cara baik atau memberi makan kawannya tanpa menganggapnya sebagai harta miliknya sendiri ( tidak sewenang- wenang mempergunakannya seperti miliknya sendiri ).” ( 5 : 74—S.M. )

Pahala yang menyertai seseorang sepeninggalnya.
1001. Dari Abu Hurairah r.a.: Rasulullah Saw. Bersabda, “ Apabila seseorang meninggal, putuslah amalnya, kecuali tiga perkara, yaitu amal jariah, ilmu yang bermanfaat, dan anak saleh yang mendoakannya.” ( 5 : 73—S.M. )

Hadits Arba'in An-Nawawi dengan Syarah Ibnu Daqiqil 'Ied
Hadist ke- 25, Bersedekah tidak mesti dengan harta
Dari Abu Dzar radhiallahu 'anhu, dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam, ia berkata: Sesungguhnya sebagian dari para sahabat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam berkata kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam : “Wahai Rasulullah, orang-orang kaya lebih banyak mendapat pahala, mereka mengerjakan shalat sebagaimana kami shalat, mereka berpuasa sebagaimana kami berpuasa, dan mereka bersedekah dengan kelebihan harta mereka”. Nabi bersabda : “Bukankah Allah telah menjadikan bagi kamu sesuatu untuk bersedekah ? Sesungguhnya tiap-tiap tasbih adalah sedekah, tiap-tiap tahmid adalah sedekah, tiap-tiap tahlil adalah sedekah, menyuruh kepada kebaikan adalah sedekah, mencegah kemungkaran adalah sedekah dan persetubuhan salah seorang di antara kamu (dengan istrinya) adalah sedekah “. Mereka bertanya : “ Wahai Rasulullah, apakah (jika) salah seorang di antara kami memenuhi syahwatnya, ia mendapat pahala?” Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam menjawab : “Tahukah engkau jika seseorang memenuhi syahwatnya pada yang haram, dia berdosa, demikian pula jika ia memenuhi syahwatnya itu pada yang halal, ia mendapat pahala”. [Muslim no. 1006]
Sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam “menyuruh kepada kebaikan adalah shadaqah, mencegah kemungkaran adalah shadaqah” menyatakan pengakuan bahwa setiap orang yan melakukan amar ma’ruf dan nahi mungkar dipandang melakukan shadaqah, yang hal ini akan memperjelas makna tasbih dan hal-hal yang disebut sebelumnya, karena amar ma’ruf dan nahi mungkar adalah fardhu kifayah, sekalipun bisa juga menjadi fardhu ‘ain. Berbeda halnya dengan dzikir yang merupakan perbuatan sunnah, pahala atas perbuatan wajib lebih banyak daripada perbuatan sunnah, seperti yang disebutkan dalam sebuah Hadits Qudsi yang diriwayatkan oleh Bukhari, Allah berfirman : “Tidaklah hamba-Ku mendekatkan diri kepada-Ku dengan perbuatan yang Aku cintai yang Aku wajibkan kepadanya”.

Hadits Arba'in An-Nawawi dengan Syarah Ibnu Daqiqil 'Ied
Hadist ke-26, Segala perbuatan baik adalah sedekah
Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, ia berkata : “Telah bersabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam : ‘Setiap anggota badan manusia diwajibkan bershadaqah setiap hari selama matahari masih terbit. Kamu mendamaikan antara dua orang (yang berselisih) adalah shadaqah, kamu menolong seseorang naik ke atas kendaraannya atau mengangkat barang-barangnya ke atas kendaraannya adalah shadaqah, berkata yang baik itu adalah shadaqah, setiap langkah berjalan untuk shalat adalah shadaqah, dan menyingkirkan suatu rintangan dari jalan adalah shadaqah ”. [Bukhari no. 2989, Muslim no. 1009]
Dalam shahih Muslim disebut jumlah anggota badan ada tiga ratus enam puluh. Qadhi ‘Iyadh berkata : “Pada asalnya kata “sulaama” bermakna tulang, telapak tangan, jari-jari dan kaki, kemudian kata tersebut biasa dipakai dengan arti seluruh anggota badan”.Sebagian ulama berkata : “Yang dimaksud di sini adalah shadaqah anjuran atau peringatan, bukan berarti shadaqah yang wajib. Sabda beliau “kamu mendamaikan antara dua orang (yang berselisih) adalah shadaqah” yaitu mendamaikan keduanya secara adil.
Pada Hadits lain riwayat Muslim disebutkan :“Setiap anggota badan dari seseorang di antara kamu dapat berbuat shadaqah. Setiap tasbih adalah shadaqah, setiap tahmid adalah shadaqah, setiap tahlil adalah shadaqah, setiap takbir adalah shadaqah, amar ma’ruf adalah shadaqah, tetapi semuanya itu bisa Dicukupkan dengan (melakukan) dua raka’at shalat Dhuha”.
Maksudnya, semua shadaqah yang dilakukan oleh anggota badan tersebut dapat diganti dengan dua raka’at shalat Dhuha, karena shalat merupakan kerja dari semua anggota badan. Jika seseorang shalat, maka seluruh anggota badannya menjalankan fungsinya masing-masing. Wallahu a’lam.

Filantropi Islam, yang di wujudkan dalam zakat, infak, sedekah dan wakaf. Zakat adalah salah satu upaya atau kegiatan aktivitas dalam Filantropi Islam. Zakat merupakan salah satu rukun Islam yang ketiga. Zakat berasal bentukan kata “zaka” yang berarti suci, baik, berkah, tumbuh dan berkembang. Menurut terminologi syariah (istilah). Kaitan antara makna secara bahasa dan istilah ini sangat erat sekali. Zakat adalah bagian dari harta yang wajib diberikan oleh setiap muslim yang memenuhi syarat kepada orang- orang tertentu, dengan syarat- syarat tertentu pula. Harta yang dikeluarkan itu, akan membersihkan, mensucikan, diberkahi, semua harta yang dizakati, dan memelihara pertumbuhannya. Adapun persyaratan harta yang wajib dizakatkan itu, antara lain sebagai berikut. Pertama Al- milk at- tam yang berarti harta itu dikuasai secara penuh dan dimili secara sah, yang di dapat dari usaha, bekerja, warisan, atau pemberian yang sah, dimungkinkan untuk dipergunakan dan diambil manfaatnya, atau kemudian disimpan. Di luar itu seperti hasil korupsi, kolusi, suap, atau perbuatan tercela lainnya, tidak sah dan tidak akan diterima zakatnya. Dalam hadist riwayat Imam Muslim, Rasulullah pernah bersabda bahwa Allah SWT tidak akan menerima zakat atau sedekah dari harta yang ghulul (didapatkan dengan cara batil). Kedua, an-namaa adalah harta yang berkembang jika di usahakan atau memiliki potensi untuk berkambang misalnya hata perdagangan, peternakan, pertanian, deposito mudharabah, usaha bersama, obligasi, dan lain sebagainya. Ketiga, telah mencapai nisab, Harta itu telah mencapai ukuran tertentu. Keempat, telah melebihi kebutuhan pokok, yaitu kebutuhan minimal yang dibutuhkan seseorang dan keluarganya yang menjadi tanggungannya untuk kelangsungan hidupnya. Kelima, telah mencapai satu tahun untuk harta- harta tertentu, misalnya perdagangan. Akan tetapi tanaman dikeluarkan zakatnya pada saat memanennya. Zakat dapat dibedakan antara; Zakat mall dan zakat fitrah. Zakat mall adalah bagian dari harta kekayaan seseorang (badan hukum) yang wajib dikeluarkan untuk golongan orang- orang tertentu setelah dipunyai selama jangka waktu tertentu dalam jumlah minimal tertentu pula. Kekayaan yang wajib dikeluarkan zakatnya itu adalah :
Emas, perak dan uang
Barang dagangan
Binatang ternak
Hasil bumi, hasil laut serta hasil jasa seseorang
Barang tambang & barang hasil temuan
Masing- masing golongan harta kekayaan ini berbeda nisab, yakni jumlah minimum harta kekayaan yang wajib dikeluarkan zakatnya. Haul yaitu jangka waktu yang ditentukan bila seseorang wajib mengeluarkan zakat hartanya, dan Qadar zakatnya yakni ukuran besarnya zakat yang harus di keluarkan. Tuhan menyebut delapan golongan orang- orang yang berhak menerima zakat (8 Asnaf)yaitu:
Fakir
miskin
Amil (orang yang mengurus zakat.)
Muallaf (orang yang baru masuk Islam yang lemah imannya.)
Riqab (hamba sahaya atau budak belian yang baru diberi kebebasan berusaha untuk menebus dirinya supaya menjadi orang merdeka.)
Gharim (orang yang berhutang)
Sabilillah (orang yang dengan segala usaha yang baik, dilakukannya untuk kepentingan agama dan ajaran Islam)
Ibnussabil (orang yang kehabisan biaya dalam perjalanan yang bermaksud baik)

Sedangkan zakat fitrah adalah pengeluaran yang wajib dilakukan oleh setiap muslim yang mempunyai kelebihan dari nafkah keluarga yang wajar pada malam sebelum hari raya Idulfitri. Banyaknya 2,5 kg atau 3,5 liter beras yang dapat dibayar dengan uang seharga tiga setengah liter beras itu. Beras yang dikeluarkan untuk zakat fitrah harus sama kualitasnya dengan beras yang biasa dikonsumsi oleh orang yang bersangkutan sehari- hari. Seorang kepala keluarga, selain dari memfitrahi dirinya sendiri wajib juga memfitrahi semua orang yang menjadi tanggungannya, termasuk istri, anak- anak, orangtua, bahkan pembantu rumah tangganya. Pengeluaran zakat fitrah boleh dilakukan sejak permulaan bulan Ramadhan, namun yang paling utama adalah pada malam sebelum Idulfitri (akhir ramadhan). Selambat- lambatnya pagi 1 syawal sebelum shalat Idulfitri dimulai. Fitrah yang dibayar setelah dilakukannya shalat Idulfitri maka dianggap sedekah biasa, bukan zakat fitrah lagi. Yang diutamakan menerima zakat fitrah adalah fakir miskin (Hadist).
Infak berasal dari kata “anfaqa” yang berarti mengeluarkan sesuatu (harta) untuk kepentingan sesuatu. Termasuk pengertian ini, infak yang dikeluarkan orang kafir untuk kepentingan agamanya (surah al- anfal : 36). Sedangkan menurut terminologi syariah, infak berarti mengeluarkan sebagian dari harta atau pendapatan/ penghasilan untuk sutu kepentingan yang diperintahkan ajaran Islam. Jika Zakat ada nisabnya, infak tidak mengenal nisabnya. Infak dikeluarkan oleh setiap orang yang beriman, baik yang barpenghasilan tinggi maupun rendah, apakah ia disaat lapang maupun sempit. Jika zakat harus diberikan pada orang yang berhak dizakati atau 8 asnaf, maka infak dapat diberikan kepada siapa pun juga, misalnya untuk kedua orang tua, anak yatim, dan sebagainya. Infak juga berarti, pengeluaran sukarela yang dilakukan seseorang setiap kali ia memperoleh rezeki, sebanyak yang dikehendakinya sendiri.
Sedekah berasal dari kata “Shadaqa” yang berarti “benar” orang yang suka bersedekah adalah orang yang benar pengakuan imannya. Menurut terminologi syariah, pengertian sedekah sama dengan pengertian infak, termasuk hukum dan ketentuan- ketentuannya. Hanya saja, jika infak berkaitan dengan materi, sedekah memili arti lebih luas, menyangkut hal yang bersifat nonmateriil. Seringkali kata- kata sedekah dipergunakan dalam al-quran, tetapi maksud sesungguhnya adalah zakat. Yang perlu diperhatikan, jika seseorang telah berzakat tetapi masih memiliki kelebihan harta, sangat dianjurkan sekali untuk berinfak dan bersedekah, Berinfak adalah ciri utama orang yang bertakwa, ciri mukmin yang sungguh- sungguh imannya, ciri mukminin yang mengharapkan keuntungan abadi. Berinfak akan melipat gandakan pahala di sisi Allah. Sebaliknya, tidak mau berinfak sama dengan menjatuhkan diri pada kebinasaan. Sedekah adalah pemberian sukarela yang dilakukan seseorang kepada orang lain, terutama kepada orang- orang miskin, setiap kesempatan terbuka yang tidak ditentukan baik jenis, jumlah maupun waktunya. Lembaga sedekah sangat digalakan oleh ajaran Islam untuk menanamkan jiwa sosial dan mengurangi penderitaan orang lain. Sedekah tidak terbatas pada pemberian yang bersifat material saja, tetapi juga dapat berupa jasa yang bermanfaat bagi orang lain. Bahkan senyum yang dilakukan dengan ikhlas untuk menyenangkan orang lain, termasuk dalam katagori sedekah.
Secara harfiah, wakaf berarti “al- habsu” “menahan” atau “mendiamkan sesuatu”, wakaf adalah menahan atau mendiamkan sesuatu benda sehingga tidak bisa dimanfaatkan lagi oleh pemiliknya semula karena telah berubah status kepemilikannya. Contohnya : sebidang tanah yang awalnya adalah milik Pak Ahmad, kemudian diwakafkan kepada suatu yayasan untuk dibangun di atasnya sebuah masjid maka sejak itu tanah tersebut tidak bisa lagi dimanfaatkan oleh Pak Ahmad. Tanah tersebut telah berubah kepemilikannya dari hakkul- adam ‘ hak manusia ‘ menjadi hakkullahi ‘ hak Allah ‘. Karena itu,wakaf tidak boleh diperjual belikan, diwariskan, atau diberikan kepada orang (pihak lain) yang menyebabkan hilangnya wakaf tersebut. Wakaf artinya menahan sesuatu benda yang kekal zatnya untuk diambil manfaatnya sesuai dengan ajaran Islam. Orang yang telah mewakafkan hartanya tidak berhak lagi atas barang atau benda yang diwakafkan itu karena selain dari ia telah menanggalkan haknya atas bekas hartanya itu, peruntukannya pun telah berbeda pula yakni untuk kepentingan orang lain atau untuk kepentingan umum. Wakaf adalah salah satu lembaga pemanfaatan yang sangat digalakan dalam ajaran Islam karena merupakan perbuatan baik yang pahalanya tidak putus- putus diterima oleh yang melakukannya, selam barang yang diwakafkan itu tidak musnah dan terus dimanfaatkan orang. Menuru ketentuan Islam, ada beberapa unsur dan syarat yang harus dipenuhi agar wakaf terwujud, yaitu : Ada orang yang mewakafkan hartanya, ada harta yang di wakafkan, ada tujuan yang jelas, ada pernyataan atau ikrar dari orang yang berwakaf dan Ikrar itu (di Indonesia) harus di ucapkan menurut ketentuan yang berlaku.
Filantropi Islam sebagai wujud nyata dalam pemerataan pendapatan, dari suatu hasil ekonomi, berdasarkan syariah Islam yang bersumber dari Al- Quran dan Hadist. Pemerataan hasil kegiatan ekonomi untuk kemaslahatan umat Islam, atau harus dapat dirasakan oleh seluruh umat Islam, tidak ada kecemburuan sosial antara si kaya dan si miskin, tidak ada lagi jurang pemisah diantara mereka, semua saling cinta kasih, saling membantu antara yang mampu dengan yang tidak mampu, saling tolong menolong, saling menghargai hak dan kewajiban masing – masing dan hidup damai, Dengan Filantropi Islam ( ZISWAF) diharapkan semua umat Islam dapat hidup makmur sejahtera dan bahagia dunia maupun akherat.
Daftar Pustaka

Hadist 36. TERJEMAH HADIST SHAHIH BUKHARI AL IMAM AL BUKHARI oleh UmairulAhbab Baiquni, penerbit “ HUSAINI” Bandung.
MENJAWAB PERSOALAN FIQIH IBADAH, Ahmad Zubaidi, dkk, penerbit“ Al- Mawardi Prima”
PANDUAN PRAKTIS TENTANG ZAKAT, INFAK, SEDEKAH, DRS. K.H. Didin Hafidhuddin, M.Sc. , penerbit “Gema Insani”.
PEDOMAN ZAKAT, Teungku Muhammad Hasbi Ash Shiddieqy, penerbit “ PT. Pustaka Rizki Putra” Semarang.
SISTEM EKONOMI ISLAM ZAKAT DAN WAKAF, Mohammad Daud Ali, penerbit Universitas Indonesia.
FIQIH SEHARI- HARI, Saleh Al- Fauzan, penerbit “ Gema Insani” Jakarta 2006.
PEDOMAN HIDUP MUSLIM, Abu Bakr Jabir Al- Jaza’iri, penerbit “ Litera AntarNusa”.
Hadist 501, 509, 510, 511, 523, 525, 526, 533, 543A, 543B, 544, 560, 561, 1000, 1001, RINGKASAN SHAHIH MUSLIM, disusun oleh, Al- Hafizh Zaki Al-Din ‘Abd Al- ‘ Azhim Al-Mundziri, penerjemah : Syinqithy Djamaluddin dan H.M. Mochtar Zoerni, penerbit, “ Mizan”.
Hadist Arba’in An- Nawawi dengan Syarah Ibnu Daqiqil’ Ied, “ Versi 1.0”, Dzulqa’dah 1426 H (Desember 2005).
Al- Quran Digital, “ Versi 2.1”, Jumadil akhir 1425 H (Agustus 2004)
Pengenalan Eksklusif EKONOMI ISLAM, Mustafa Edwin Nasution dkk, “ Kencana Prenada Media Group” Jakarta 2006.
Literatur dari Internet, “ Filantropiuntuk keadilan sosial”.